I Love Buninagara Half To Death

Aya, aku tahu kalau saat ini kamu sedang bingung.. Sangat bingung memikirkan bagaimana mencari cara untuk bisa merangkaikan kata-kata manis sebagai kalimat ajaib yang bisa memperindah hati orang lain..

Benar kan?946064_10201400582551524_72336526_n

Ya tentu aku tahu kamu Aya, karena sepanjang hari dahimu selalu saja mengkerut. Aku yakin kalau saat itu kamu sedang berusaha mengutarakan sesuatu.

Aya, mungkin memang tidak ada kalimat pembuka yang terbaik yang bisa kamu tuliskan pada kisah ini. Padahal kamu sangat ingin orang lain ikut merasakan apa yang sedang kamu rasakan.

Tapi, satu yang harus kamu yakini bahwa hal sekecil apa pun bisa merubah hidup orang lain. Termasuk hidupmu saat ini..

Jangan sedih, karena Buninagara sama sekali tidak mengajarkan kesedihan..

Saat ini, satu detik berlalu, satu menit berlalu, satu jam berlalu, satu hari berlalu, dan satu minggu pun ikut berlalu.

Aku akan mulai bercerita tentang salah satu tempat di mana di sana, kini kebahagiaanku terletak.

>free writing, before<

***

Boleh kalau sejenak saja aku memejamkan mata? Aku masih sangat ingin membayangkan diri ini berada di sekeliling orang-orang Desa Buninagara. Mengingat tentang kerendahan hati Bapak dan Ibu Alit, Bapak dan Ibu Tari, Bapak dan Ibu lainnya serta Adik-adik tegar yang tidak pernah letih mengukir senyum. Mereka yang saat ini selalu saja berhasil dengan seketika membuatku gugup, kaku, dan terserang rasa rindu. Betapa terenyuhnya hati yang tidak pernah tahu bahwa jauh dari pelupuk mata terdapat orang-orang yang bisa mengasihi dengan tulus, meluluhkan hati cukup hanya dengan hitungan waktu jari-jemari.

Pagi dengan ragu, aku sama sekali tidak tahu ke mana kaki ini akan berpijak? Apakah ke arah Utara? Selatan? Barat? Timur? Aku juga tidak pernah tahu udara mana yang akan aku hirup? Siapa saja orang-orang yang akan aku temui? Apakah berada di sana akan menyenangkan atau tidak sama sekali? Tapi aku yakin bahwa di mana pun langkah ini bermuara, tidak akan hanya ada letih yang aku pikul hingga pulang nanti. Pada sebuah tempat yang jauh menembus dalamnya hutan serta menapaki tingginya pegunungan. Hingga aku melihat dengan kedua pelupuk mataku sendiri bahwa subhanAllah indahnya tempat ini yang bagiku adalah “Negeri di atas Awan”.

Saat itu, mungkin aku adalah satu-satunya orang yang kampungan. Jauh lebih kampungan bila dibandingkan dengan orang kampung mana pun karena setiap kali leher ini menoleh ke kiri dan ke kanan jalan, tidak ada satu alasan pun untuk tidak berteriak kegirangan ketika menemukan lukisan nyata goresan ujung tangan Tuhan. Hanya ucapan terimakasih yang saat itu menyeru di dalam hati,

“Terimakasih telah jauh membawaku pergi ke tempat ini, Buninagara. Tempat yang tidak sekedar rekomendasi Tuhan untukku!”

Buninagara.. Buninagara.. Buninagara..

Terus saja mengucap Buninagara, padahal aku sama sekali belum memberitahu di mana letak Buninagara?

Buninagara adalah salah satu desa kecil yang berada di tengah-tengah lembah pegunungan. Di saat aku bertanya,

“Kalau yang ada di belakang ini nama gunungnya apa Bu?”

“Eta mah namina Gunung Geulis.”

Wah, ini toh yang namanya gunung geulis? Geulis yang artinya cantik dalam bahasa Sunda.

“Kalau Gunung Kasepnya ada di sebelah mana?” Canda aku, karena aku tahu kalau ngga ada yang namanya Gunung Kasep (Gunung Ganteng).

“Oh aya Gunung Kasep oge, anu di sisina Gunung Geulis. Nah, amun Gunung Goreng mah ayana di ditu tah.” Nunjuk belakang Gunung Geulis.

Kata Ibu Alit,

“Kalau musim hujan, di sini mah ngga dingin. Tapi, kalau musim panas di sini dingin.”

Walaupun siang itu hujan turun dan bagi mereka udara tidak begitu dingin, kehangatan mereka dengan beramah tamah satu sama lain, bercengkrama hingga mengundang tawa merupakan cara terhangat dalam menghangatkan suasana. Hati memang berada di tempat yang tersembunyi tapi hati tidak bisa menyembunyikan perasaan, aku nyaman berada di tengah-tengah mereka.

“Neng, betah ngga tinggal di sini?” Tanya Ibu Tari.

“Betah Bu (jawabku sigap). Abis orang-orangnya ramah, hmmm gimana ya? (sedikit bingung). Abis enaknya, bisa langsung berbaur gitu Bu. Ngga asa-asa..”

“Neng, udah tinggal di sini aja ya. Kumaha mun aya nu bogoheun?”

“Hmmm saha heula nu bogohna Bu?” Ibu Tari, ngajak becanda mulu.

Kata Ibu Alit, Ibu Tari emang suka becanda. Orangnya rame, makanya kalau kerja (metik teh) ngga ada Ibu Tari rasanya jadi sepi banget.

Tuh kan, ceritanya jadi kemana-mana. Back to focus alright!

Kalian pernah lihat bagaimana hijaunya perkebunan teh? Dan yang satu ini juaranya, aku beri nilai 100 dan tepat menduduki urutan pertama dibandingkan perkebunan teh mana pun juga. Memang kedengarannya berlebihan atau ketinggian dalam berkhayal. Perkebunan teh ini memang nyata adanya, kalau tidak percaya kalian boleh juga membuktikannya! Aku yakin kalian pasti akan sangat setuju. Seperti bukit teletubies yang hijaunya mencolok mata dan indahnya tiada dua. Saat itu, aku sungguh sangat kagum. Walau pun sebenarnya, ini bukanlah sifat kampunganku yang pertama.

Berkelana duduk di atas sepedah motor membuatku bisa menghirup harumnya sayur-mayur sepanjang perjalanan. Harum daun bawang yang sangat menyengat tapi menyenangkan, bahkan harum terasi ketika melewati pemukiman di mana salah satu rumahnya pasti aku yakini sedang memasak sesuatu.

“Untuk bahagia, ngga perlu deposito satu triliun.”

“Untuk bahagia, ngga perlu rumah megah.”

“Untuk bahagia, ngga perlu kamar hotel bintang lima.”

“Untuk bahagia, ngga perlu lampu kristal mahal.”

“Untuk bahagia, ngga perlu water heater.”

“Untuk bahagia, ngga perlu kendaraan mewah.”

“Untuk bahagia, ngga perlu makan di restoran.”

“Untuk bahagia, ngga perlu diam lama berfikir tetapi bergerak cepat bertindak.”

Karena bahagia itu sesederhana ketika kamu bersama dengan mereka yang mengetahui artinya cinta pada sesama…

Arsip : Survey BN, Texting : 18.11.2012 17.24

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s