Comp. >Guguran-Guguran Dosa<

Arsip.

Ibu tidak pernah bosan mengingatkanku tentang bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi akan segera tiba. Namun, mengingat tanggal berapa sekarang? Sungguh tidak terasa bahwa ternyata waktu berjalan dengan begitu cepatnya, di mana esok adalah hari yang paling ditunggu-tunggu itu tetapi, aku masih berada jauh dari Ibu.

***

Aku bergelut dengan waktu untuk menyelesaikan satu semester genap yang cukup panjang agar tahun pertamaku sebagai mahasiswi benar-benar berhasil diperjuangkan, demi Ibu. Hanya untuk Ibu, aku mati-matian menahan rindu. Bertahan tanpa hadirnya ia di sisiku ketika aku ingin sekali bertemu, sampai saat ini. Aku pun hanya bisa mendoakan Ibu dari kejauhan, sebagaimana doa Ibu yang bercucuran tiada henti untukku-Fatimah.

Semoga Ibu masih mempercayai perkataanku, bahwa aku akan kuat berjalan pergi sendiri untuk berjihad menuntut ilmu di sebuah negeri rantauan.

Dan sore hari ini aku jatuh, tumbang. Aku sakit Bu.

Mungkinkah aku harus mengatakannya? Padahal Ibu tahu, aku baru saja sembuh satu minggu yang lalu.

Ibu, saat ini aku sungguh takut. Aku takut tidak bisa berada di samping Ibu untuk bersama-sama menyambut Ramadhan seperti kebiasaan yang tiap tahun dirayakan oleh keluarga besar kita. Berkumpul bersama untuk menyantap opor spesial buatanmu sambil bercengkrama Bu.

Matahari mulai tergelincir dari peraduannya dan kesunyian begitu terasa ketika hari memasuki malam. Aku tidak kuasa lagi membendung rasa sakit di dalam kesendirianku. Bagiku sakit hanya akan selalu membawa duka. Satu kali air mataku menetes, tapi aku coba untuk memejamkan mata. Berharap tidur dapat sedikit mengubah keadaananku menjadi lebih baik karena untuk saat ini aku sama sekali tidak dapat bangun dari atas tempat tidur.

“Ibu, aku sakit.” Pecahlah rintihanku pada Ibu dalam sebuah pesan singkat.

Sebuah pesan yang tidak bisa lagi aku tunda karena rasanya sangat sakit saat jatuh sakit sendirian. Kali ini air mataku benar-benar bercucuran deras, tumpahlah semua emosiku, Ibu…

“Pulanglah Nak…” Ibu memintaku dengan lemah.

Pipiku sudah sangat basah dan entah bagaimana lagi dengan kondisi hatiku yang kacau balau karena tidak karuan menahan haru.

Ibu selalu memintaku untuk pulang tetapi, ada saja alasan yang aku beri agar tetap tinggal di Bandung menyelesaikan beberapa tugas lagi dan kini aku hanya bisa terus-menerus menyusahkan Ibu dengan melulu merengek sakit. Apalagi sampai membuatnya sedih seperti kata Adikku di rumah yang beberapa kali menemukan Ibu sedang memasang wajah murung.

“Insya Allah besok pagi aku pulang Bu…”

Aku memang yang paling lemah bila dibandingkan dengan Adik-Kakakku yang lainnya. Ibu, Kakak, maupun Adikku sudah menyadarinya sedari aku kecil dan hanya Ayahlah yang memang kurang dekat denganku sehingga tidak terlalu memperhatikan anaknya ini. Beruntunglah, tidak bertambah banyak orang yang sedih dengan apa yang sering kali menimpa diriku ini. Maaf Ayah, Ibu…

***

Sangat sulit untuk berfir keras di tengah situasi seperti ini dan tiba-tiba aku mengingat kata-kata salah seorang Ustad yang pernah aku temui di kampus beberapa saat yang lalu,

“Apa kalian tahu bahwa penderitaan itu muncul ketika seseorang memikirkan dirinya sendiri?”

Hmmm bayangkan saja, apakah ketika sakit aku bisa memikirkan oranglain dengan sebaik-baiknya? Rasanya enggan karena tentu saja yang terlintas dibenaku saat itu hanyalah diriku sendiri yang menginginkan kesembuhan. Kalau begitu, mungkin kalian dapat menebak seberapa banyak penderitaan yang pernah dan sedang aku rasakan?

Banyak, tidak hanya ‘cukup’ tetapi ‘sangat’ banyak gambaran dari penderitaan itu karena mereka telah muncul sejak aku kecil dan selalu saja bermunculan lagi sampai dengan saat ini.

Aku lelah selalu berperang dengan rasa sakit yang rutin hadir menimpa diriku, bahkan terkadang ia telah hadir lebih dulu sebelum waktunya. Seandainya aku bisa selalu dalam pelukan Ibu selamanya.

Akhir-akhir ini aku sering kali merenung setiap memiliki waktu untuk menyendiri dan malam ini,

“Masihkah aku gembira menyambut bulan Ramadhan? Dengan semua yang kini sedang aku alami. Rasa sakit yang selalu saja mengacaukan kehidupanku. Kehidupan yang telah aku rancang sejak jauh-jauh hari.

Tolong jangan jadikan aku sebagai seseorang yang selalu merugi ya Allah. Sesungguhnya aku ingin terbebas dari siksaan api neraka seperti janji-Mu kepada mereka yang berbahagia bila menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh dengan keistimewaan ini. Pahitnya, aku pun harus kehilangan pahala shalat tarawih pertama…”

Kemudian entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin tidur? Rasa kantuk membubuhi mataku dan aku merasa bahwa kini Allah sedang mengerjakan sesuatu.

***

Aneh, sebenarnya aku sama sekali tidak ingin mengatakan hal ini. Tapi, tiba-tiba saja tanpa kuasaku hati ini berbicara sendiri di dalam mimpi.

“Ibu, sakitku ini bukan yang pertama kali aku rasakan. Rasa sakit ini selalu menimpaku kapan pun ia mau. Baik itu di saat aku sedang berbahagia atau pun di saat aku sedang bersedih dan pada akhirnya aku hanya akan selalu jatuh sakit lagi Bu. Ibu, saat ini aku benar-benar takut. Aku takut sesuatu akan terjadi pada diriku.

Rasa sakit ini mungkin sedikit menggetarkanku bahwa sesugguhnya aku sama sekali belum siap menjadi seseorang yang akan dikenang oleh mereka yang aku sayangi. Ibu, kenapa aku bisa bicara seperti ini Bu? Aku takut sendirian, terlebih lagi aku sangat takut dengan amal ibadahku selama ini.”

***

Ketakutan membuatku tersadar bahwa sahabat manusia yang sesungguhnya adalah kematian. Jujur saja, sedikit pun aku belum menginginkannya. Namun, bukankah Allah yang menguasai seisi jagad raya ini? Sehingga ketika Allah yang menginginkannya, semua itu hanyalah perkara mudah. Kun fayakun. Hukum Allah, yang terjadi maka terjadilah.

Andai Allah tidak menutup aibku selama ini? Mungkin aku tidak akan angkuh pada kehidupan, dengan selalu menganggap hari esok masih akan terus ada karena usiaku yang masih cukup belia. Sehingga kalau begitu bisa saja aibku akan lebih dulu berteriak, memberitahu bahwa banyak sekali dosa yang telah aku tabung sebagai bekal untuk di akhirat kelak. Tepatnya dosa-dosa selama aku menghabiskan masa mudaku ini. Astaghfirullah.

“Sejak saat ini aku ingin belajar untuk beribadah dengan sebaik-baiknya. Meskipun nanti aku sedang sakit, aku akan mencoba untuk terus berusaha mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Allah. Agar di saat aku sudah sangat frustasi dengan penyakitku, aku bisa ikhlas menerima kematian sebagai rencana Allah yang paling baik.” Itulah kata-kata yang kini telah terukir dengan kokohnya di dasar hatiku. Namanya prinsip hidup!

Atau mendengarkan cerita tentang kekeliruanku sendiri ketika ada teman yang jatuh sakit, kemudian dengan senang hati aku menyemangatinya dengan berkata,

“Ali, sakit itu menggugurkan dosa. Jadi selama kamu sakit, banyak-banyak berdoa ya…”

Awalnya aku senang mengetahui ada kata-kata penyejuk hati seperti itu tapi, lama-kelamaan aku bosan sendiri karena rasa sakit yang melulu aku dapati. Aku masih tidak tahu apakah pantas untukku menghitung-hitung amal ibadah selama aku hidup? Karena aku hanya manusia yang tidak lebih tahu dari Allah, Tuhan yang menciptakanku. Aku hanya menyimpan banyak keraguan tentang bagaimana pahalaku nanti jika kalah banyaknya dengan dosa-dosa yang berguguran dari penyakit semacam ini? Padahal aku pun sadar, aku pasti akan melakukan dosa lagi. Terus harus dibagaimanakan diriku ini? Aku sungguh bingung. Mungkin rasa-rasanya aku lebih mirip seperti seseorang yang menggali dan menutup lubang galiannya sendiri?

***

Keesokan harinya aku pulang, dengan langkah terpatah-patah. Bisakah aku benar-benar melihat Ibu di awal bulan Ramadhan ini? Tapi, bersyukurlah karena ternyata hatiku hanya mengigau memikirkan hal yang tidak-tidak dan aku masih bisa bertemu Ibuku.

Sesampainya aku di kampung halaman, Ibu langsung membawaku ke dokter untuk memeriksakan tubuhku yang ringkih ini. Ketika dokter bertanya tentang rasa sakit yang mungkin aku rasakan, aku hanya berkata,

“Tidak… tidak…” Sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepala.

“Hebat!!” Balas sang dokter.

Bersyukur karena ternyata penyakit ini mulai enyah dari dalam tubuhku. Ibu pun tidak secemas saat ia meneleponku semalam. Hanya saja wajahku yang memerah sedikit membuat Ibu kasihan. Secara perlahan, aku mulai terlepas dari rasa aneh yang semalaman berkecamuk di dalam fikiranku. Syetan-syetan itu memang sangat sok berkuasa dan memerangi apa-apa saja yang ada di dalam diriku.

Ternyata dengan bertemu dan menyayangi Ibu seutuhnya, semangatku untuk sembuh semakin bertambah besar. Aku memang pantas menyerah kalau tidak ada lagi motivasi dari dalam diriku untuk sembuh. Tapi, Ramadhan kali ini telah berhasil meyakinkan aku bahwa Allah bisa saja mengampuni dosa hamba-Nya meski itu sebanyak buih di lautan. Ingatanku kembali pada Asmaul Husnah yang dilagukan oleh adikku, salah satu dari sifat-Nya yang selalu ada di dalam keyakinan setiap kaum muslimin bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.

“Dek, janganlah kamu menutup diri dari hidayah Allah karena untuk bisa mendapatkannya tidaklah mudah. Sekalinya kamu mendapatkan itu, maka bersyukurlah. Jangan sampai Allah menjauh karena ketika kamu berjalan mendekati Allah maka Allah akan berlari mendekatimu. Dan dosa seorang hamba itu bagaikan setetes air di lautan sedangkan ampunan Allah itu seluas air di lautan.” Kakakku memang yang terbaik dalam memberi obat dari penyakit hati, selain daripada penyakit jasmani yang aku idap ini.

Mungkin aku akan terus-menerus meminta kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosaku selama aku hidup di dunia. Aku percaya dan yakin bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan pengampunan. Tidak apalah bila pahalaku masih sedikit, yang terpenting dosa-dosaku bisa dihapuskan sepenuhnya oleh Allah SWT. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s