Comp. >Jatuh Bangun Aku Mengejarmu<

Arsip : 15.01.2012 18.37

Yes, akhirnya aku unggul 1-0 karena bangun lebih awal dari Sang Mentari! Hehehe maklum saja, sejak beberapa hari yang lalu aku selalu tidur larut malam. Masa perjaka tampan sepertiku selalu bangun kesiangan? Huh, bagaimana mau dapat pacar seperti Luna Maya?

Jadi, mulai semalam aku berjanji bahwa esok dan seterusnya harus bisa bersinar walau Sang Mentari belum terbangun dari tidurnya. Tapi naas, aku malah tidak tidur semalaman! Masalahnya bukan ini tapi, karena aku tidak sedang di kamar apalagi di atas kasur sambil memeluk guling. Sebenarnya aku, Daniel, dan Pak Muh ada di atas kereta api yang sedang melaju kencang menuju Kota Gudeg, Yogyakarta. Kami adalah satu-satunya finalis asal Jawa Barat yang akan memperebutkan tropi kemenangan dalam Lomba Science Tingkat Nasional.

Di sepanjang perjalanan, aku dan Daniel tidak bisa duduk diam. Kami mencari tahu apa saja yang ada di dalam gerbong sebuah kereta. Memotret sana-sini dan merekam semua keindahan alam yang ada di bumi pertiwiku-Indonesia. Dengan menggunakan HP, gambar yang aku dapat cukup bagus. Lumayan untuk di-upload dan aku bagikan kepada teman-teman.

Ketika aku melihat ke arah jam, tau-tau angka sudah menunjukan pukul 04.00 dan tidak lama terdengar suara lonceng yang cukup membuat telingaku sakit. Ternyata, kereta yang aku tumpangi sudah tiba di Stasiun Tugu.

Aku langkahkan kaki dan berjalan ke luar. Rasanya sangat lelah, kepalaku pusing, dan badan pegal-pegal sehingga tubuhku hampir saja terjatuh. Semua energiku sudah terkuras habis bahkan untuk menggendong ransel yang cukup ringan sekalipun rasanya berat seperti memikul sekarung beras. Sudah tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jadi, Pak Muh berinisiatif untuk menyewa sebuah taksi.***

Setibanya di hotel tempat menginap, barang bawaan segera diturunkan dari dalam mobil yang kami tumpangi. Ketika yang lain sedang sibuk meramu teh hangat yang tersedia di lobi hotel, aku malah kebingungan mencari satu barang yang tidak ada di dalam ranselku. Dengan tenangnya aku terus merogoh-rogoh bagian dalam ransel berwarna hitam itu sambil sesekali  mengeluarkan isinya tapi, aku menyerah.

Tampang melasku kini berpadu dengan suara yang agak bergetar,

“Bapaaa.. HP-ku ga adaaa..”

Pak Muh yang sedang berdiri di depan meja resepsionis langsung menggaruk kepala. Dahinya mengkerut, ia terlihat seperti bapak kepala sekolahku yang berumur lebih dari seabad.

“Coba kamu cari lagi! Mungkin saja keselip di dalam tas!” Pak Muh terlihat mencemaskanku. Lebih tepatnya Hp-ku.

“Sudah Pak!!! Tapi, gak adaaa..”

Para pegawai hotel yang mendengar percakapan ini langsung menatapku dengan wajah yang miris. Seperti tatapan untuk seekor anak kucing yang ditinggal pergi oleh induknya.

“Kira-kira hilangnya dimana???” kawanku Daniel ikut panik dan bertanya layaknya polisi yang sedang mengintrogasi seorang penjahat.

“Kayanya HP-ku tertinggal di mobil taksi! Habis, tadi kamu menyuruhku untuk memegang semua barang bawaan dan tidak sengaja aku taruh HP di jok tengah!!” kata-kata itu mengalir dari mulutku begitu saja.

Baru saja aku, Daniel, dan Pak Muh menghirup nafas panjang dan berharap akan melepas lelah di kamar hotel, tidak disangka musibah datang menimpaku.

Pak Muh menepuk pundakku dan ia mengatakan,

“Arief, coba kamu balik lagi ke Stasiun Tugu dan cari mobil taksinya di sana!” nadanya dalam sekali.

Aku pun bergegas keluar hotel setelah meletakan ransel di dalam kamar. Daniel terlihat sudah menungguku sambil menawar-nawar ongkos becak dan aku pun berdoa di dalam hati,

“Ya Tuhan semoga saja taksi itu benar-benar ada di Stasiun Tugu dan aku menemukan HP-ku. Amin.”***

Daniel dengan baik hati ikut menemani aku tetapi di sisi lain dia malah membuatku bertambah resah. Becak yang kami naiki jalannya amatlah lambat karena beban yang harus digoes oleh tukang becak bertambah berat. Andai saja tubuh Daniel tidak sebesar ini mungkin kecepatan becak yang kami tumpangi tidak akan sama seperti kura-kura. Aku khawatir akan kehilangan jejak taksi itu ketika sampai di Stasiun Tugu karena tidak bisa menyusulnya dengan cepat. Rasanya ingin sekali aku menggantikan posisi bapak tukang becak ini. Tetapi di saat aku menengok kebelakang dan melihat wajahnya, tiba-tiba saja aku membayangkan ayah. Wajah ayah merah menyala dan dari kepalanya muncul tanduk saat aku bilang kalau HP yang baru saja dibelikannya dua bulan lalu hilang. Selain itu, aku juga mengkhawatirkan foto dan rekaman video bahan perlombaan. Pasalnya aku lupa tidak memindahkannya ke dalam laptop. Bisa saja semua persiapan yang dilakukan sejak sebulan lalu hancur berantakan dan harapan kami untuk memenangkan perlombaan ini menjadi sia-sia.***

Setibanya di halaman parkir Stasiun Tugu, aku langsung mencari mobil taksi yang tadi aku tumpangi. Ciri-cirinya yaitu mobil sedan berwarna kuning dengan supir laki-laki tua berbadan gemuk. Tapi di sini semua taksi memiliki ciri-ciri yang sama seperti mobil taksi yang tadi pagi aku tumpangi. Sekitar dua puluh mobil taksi berderet di sepanjang tempat parkir dan membuatku kesulitan untuk mencari dimana mobil taksi itu.

Tiba-tiba saja ada seorang pria berseragam datang menghampiriku kemudian dia bertanya,

“Adik yang tadi subuh naik taksi ya? Ada apa Dik?”

Tadi subuh aku memang sekilas melihat wajahnya.

“Iya Pak, mobil taksi yang tadi subuh saya naiki dimana ya?” dengan antusias aku menjawab pertanyaannya.

“Sepertinya sedang narik penumpang Dik. Kenapa?” pria itu bertanya lagi kepadaku sambil membenarkan topi di kepalanya.

“HP teman saya ketinggalan di mobil taksi itu Pak!!!” Daniel segera memotong pembicaraan di antara kami berdua.

“Wah, kok bisa Dik? Ya sudah kalau begitu telpon saja ke agennya biar mobil taksi Pak Sobur disuruh kembali ke sini.”

Oh, ternyata nama supir taksi itu Pak Sobur, pantas saja badannya subur.

Selanjutnya pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompet dan diberikannya kepadaku.

“Nih, kamu pakai saja HP-ku!” Daniel pun ikut menyodorkan HP-nya.

Aku tidak mengira, kedatanganku untuk yang pertama kalinya di Kota Jogja ini akan disambut oleh musibah. Musibah yang mencabut semangatku sampai ke akar-akarnya.

Tanpa pikir panjang aku tekan nomor telepon agen taksi di layar HP touch screen milik Daniel tapi, tidak ada seorang pun yang mengangkat. Berkali-kali aku menggubunginya karena kata pria yang menolongku tadi,

“Terus saja ditelpon Dik! Memang lama seperti itu tapi nanti juga diangkat kok! Terus saja dicoba!”

Sungguh aku tidak enak hati karena pagi-pagi begini sudah merepotkan orang lain.

“Maaf ya, gara-gara aku HP kamu jadi hilang Rief.” seketika Daniel memecahkan lamunanku.

Aku membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk memaafkannya. Mungkin dia merasa bersalah karena telah menjadi penyebab hilangnya HP-ku tapi, di sisi lain aku sama sekali tidak menyalahkannya. Malahan aku berterimakasih kepadanya karena sejauh ini telah membantu dan menemaniku. Dengan senang hati dia pun mau meminjamkan HP-nya padahal aku tahu kalau dia juga ingin memberi kabar kepada keluarganya bahwa kami telah sampai dengan selamat di Yogyakarta.

“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?” setelah sepuluh menit aku coba menelpon akhirnya ada wanita yang menjawab.

“Iya Mba, saya Arief penumpang taksi-nya Pak Sobur dengan nomor mobil 021. Ada barang saya yang tertinggal di dalam taksi. Saya minta tolong agar mobil taksi-nya kembali ke Stasiun Tugu.” dengan lancar aku berbicara dengan wanita yang mengangkat telpon ini.

“Maaf, barang apa yang tertinggal? Tadi taksi-nya berangkat dari mana ke mana?” wanita itu terdengar kaget bercampur bingung.

“HP saya Mba yang tertinggal! Saya naik taksi tadi subuh dari Stasiun Tugu ke Hotel Simpang.” aku berikan kesaksian sejelas-jelasnya dari kejadian yang menimpaku tadi subuh.

“Baik, sebentar ya saya hubungi dulu Pak Soburnya..”

Aku pun menunggu kabar dari wanita itu. Hp Daniel tetap tersambung dan aku mendengar wanita tadi mencoba untuk menghubungi Pak Sobur dengan alat komunikasi yang tersambung di dalam mobil taksi.

Aku sadar kalau sekarang ini kita semua dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus terhalang oleh batasan jarak dan waktu. Beragam jenis alat komunikasi pun tersedia di toko-toko demi mempermudah pekerjaan manusia. Sudah dipastikan barang-barang itu tidak bisa lepas dari genggaman kita. Contohnya saja aku, hampir setiap saat tidak bisa lepas dari yang namanya HP. Barang itu telah menjadi bagian dari diriku. Dia telah mengisi hidupku sejak bangun tidur sampai aku terlelap tidur kembali.

“Maaf Dik, HP-nya ditaruh dimana?” Sepertinya wanita tadi sudah tersambung dengan alat komunikasinya Pak Sobur.

“Di jok tengah.” aku berharap ada kabar gembira dari penjelasan singkatku ini.

Sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika HP-ku benar-benar hilang. Mungkin di setiap detik aku hanya akan mematung tidak tahu harus berbuat apa.

“Kata Pak Sobur, HP-nya gak ada!” kabar itu sontak membuatku tidak berkutik.

“Yang benar Mba? Mungkin aja keselip soalnya HP saya tipis, kecil..” Aku coba untuk memberi tahu ciri-cirinya sambil berusaha menenangkan hati.

“Kalau begitu nanti saya suruh Pak Sobur langsung ke Hotel Simpang saja ya Dik?” wanita itu sepertinya ingin aku yang memastikan secara langsung keadaan di dalam taksi. Apakah memang benar semua yang dikatakan oleh Pak Sobur?

Ketika aku ingin menjawab pernyataan wanita itu,

“Iya Mb….”

HP Daniel tiba-tiba mati. Memang saat aku pinjam baterai HP-nya sudah hampir habis. Untung saja masih sempat dipakai menelpon.

Aku pun kembali ke hotel dan berterimakasih kepada pria yang membantuku tadi. Ternyata pria itu adalah rekan kerja Pak Sobur yang ikut menawarkan jasanya kepada Pak Muh tadi subuh.***

Andai aku ini HP yang dapat dimatikan atau bahkan diformat ulang. Aku ingin terlepas dari masalah ini karena batinku sudah merintih kesakitan.***

Di kamar hotel, Pak Muh menunggu kepulangan kami dengan menyiapkan sarapan berupa roti yang diambil dari perbekalan. Aku dan Daniel yang sudah kelaparan langsung memakan roti sampai habis tanpa banyak bicara. Sepertinya Pak Muh bisa menebak kenapa aku murung sejak pulang dari stasiun. Pak Muh pun menawarkan diri untuk membantu menyusun materi presentasi lomba. Aku menerima usulan itu dan mengeluarkan laptop dari dalam ransel. Oia, aku ingat kalau harus mengabarkan orang-orang di Bandung. Jadi, sebelum aku berikan laptop ini ke Pak Muh, aku buka dulu facebook dan membuat pesan,

“Kawan-kawan HP-ku hilang di taksi ketika sampai di Jogja tadi subuh. Kalau ada perlu denganku bisa hubungi ke nomor HP-nya Daniel yah. Kami di sini meminta doa kalian semua agar selalu diberi kemudahan. Amin”

Untung saja aku masih punya laptop. Selain untuk main games atau mengerjakan tugas, aku juga sering on-line dengan gadget yang satu ini! Kini laptop satu-satunya barang berharga yang aku miliki.

Setelah Pak Muh mengambil alih pekerjaanku dan Daniel, dia membiarkan kami berbaring di kasur. Tidak lama, terdengar ada yang mengetuk pintu kamar dan setelah dilihat ternyata pegawai hotel yang memberi tahu kalau ada supir taksi yang mencariku. Aku yang sedang berusaha memejamkan mata sontak terbangun dan lari menuju tempat parkir hotel. Dari jauh aku lihat ada laki-laki gemuk yang berdiri di depan pintu masuk. Nah itu dia Pak Sobur! Aku rasa dia ingin memberi tahu sesuatu tapi, dia membiarkan aku untuk mencari tahunya sendiri.

Ketika pintu mobil taksi bagian tengah aku buka,

“Tadi bapak sudah periksa Dik tapi, yang bapak temukan hanya itu (sambil menunjuk satu benda yang tergeletak di pintu mobil). Bapak tidak berani memegangnya, biar Adik saja yang mengambil. Sungguh bapak tidak tahu, andai Adik duduk di depan mungkin HP-nya bapak yang temukan dan segera bapak kembalikan. Apa yang dapat bapak lakukan untuk menjaga nama baik perusahaan Dik?” Pak Sobur terlihat menyesal karena tidak berhasil menemukan HP-ku yang tertinggal.

Dari sorot matanya saat berbicara, aku yakin dia memang orang baik-baik.

“Ini memang kartu telepon saya Pak.” aku ambil benda kecil itu. Benda yang seharusnya terpasang di dalam HP Nokia-ku.

“Iya Pak, ga apa-apa ko. Memang salah saya menyimpan HP dimana saja. Mungkin HP itu memang bukan rejeki saya. Terimakasih banyak Pak dan maaf sudah merepotkan.” sebelum Pak Sobur berkata panjang lebar lagi, aku segera mengakhiri semua pembicaraan ini.

Aku memang harus merelakan HP itu. Bagiku tidak ada gunanya mengusut masalah ini terus-menerus. Toh HP-ku sudah melayang entah kemana. Aku hanya akan membiarkan ayah memarahiku habis-habisan dan setelah itu aku meminta maaf kepadanya. Sekarang yang harus aku pikirkan adalah perlombaan yang tinggal menghitung waktu.***

Sebenarnya  aku masih ingin bermimpi tetapi, suara Daniel dan Pak Muh yang sedari tadi berisik membuatku terbangun dari tidur. Oia, aku baru sadar kalau harus menyusun materi presentasi untuk perlombaan besok. Tadi pagi Pak Muh sudah membantu menyusunnya kemudian dilanjutkan oleh Daniel ketika aku masih terlelap tidur. Seingatku, ada beberapa file yang harus dimasukan. Sekarang waktunya aku untuk menyelesaikan semua itu.

Aku turun dari atas kasur dan berjalan menghampiri laptop yang ada di meja. Menekan tombol power dan membuka lembar kerja yang ada di Microsoft Power Point. Daniel berkata kepadaku,

“Coba kamu periksa lagi materi untuk presentasinya! Sepertinya ada yang kurang dan jangan lupa masukan foto serta rekaman video hasil penelitian kita saat di labolaturium!”

“Iya, bapak pikir kita harus banyak memasukan foto daripada tulisan!”

“Oke, kalian tenang saja semuanya masih aku simpan di dalam HP.” kataku singkat.

Daniel yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi tiba-tiba keluar lagi dan membuat aku serta pak guru memperhatikannya. Wajar saja, yang ia kenakan hanyalah selembar handuk tipis pinjaman hotel tempat kami menginap.

“HP-mu kan hilang Rief!” suara Daniel terdengar seperti penyanyi yang menggunakan gaya valceto.

“Oia aku lupa!!! Aku juga tidak menyimpannya di laptop. Jadi bagaimana?” aku baru ingat dan panik seperti orang kemalingan.

Kenapa seharian ini masalah terus-menerus menimpaku?

“Ada-ada saja Arief!!!” Pak Guru ikut berkomentar dengan wajah yang terlihat kesal.

“Maaf, aku benar-benar tidak sengaja! Aku sangat menyesali kejadian ini!” semoga saja permohonan maafku diterima oleh mereka.

Benar saja, aku hanya akan mematung bila tidak ada HP. Aku bingung harus berbuat apa? Rasanya ada sesuatu yang menekan dadaku dengan sangat kuat. Sampai-sampai untuk bernafas pun terasa amat menyakitkan. Aku ingin segera mengakhiri semuanya. Maksudku mengakhiri perlombaan ini.

Aku yang diandalkan oleh Daniel dan Pak Muh untuk menyimpan semua dokumentasi, pada akhirnya malah membuat kacau. Daniel sampai tidak jadi mandi karena kesal dengan perbuatanku sedangkan Pak Muh membaringkan badannya di atas kasur sambil menutup rapat-rapat wajahnya dengan bantal. Mereka terlihat sangat kecewa.

Sesekali letupan emosi keluar dari mulut Daniel sebagai bentuk kekesalannya padaku. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan semuanya tapi, kata-kata yang terakhir ini membuat hatiku sakit dan tidak bisa lagi menahan diri,

“Bodoh!!! Kamu memang tidak pantas ada di sini!!! Tidak berguna!!!”

Dengan reflek tangan kananku sudah mengepal dan terayun tepat ke wajah Daniel.

“Buggg…” hantamanku mengenai pipi sebelah kiri Daniel.

“Buggg, buggg…” aku tidak puas hanya dengan sekali hantaman.

“HEY!!! Buggg!!!” aku pun jatuh tersungkur ke bawah lantai.

Hidungku mengeluarkan cairan berwarna merah dan rasanya,

“Awww, sakit!!!”

Daniel membalas hantamanku dengan sekali pukulan. Tulang tubuhku yang ringkih seperti retak kemudian hancur berkeping-keping. Aku bangkit sambil menyusun reruntuhan yang berserakan di atas lantai.

“SUDAH CUKUP!!! MEMALUKAN!!!” Pak Muh membentak kami dengan suaranya yang menggelegar. Aku pun terjatuh lagi. Kali ini karena kaget mendengar suaranya.

“Tidak ada gunanya kalian bertengkar sampai babak belur sekali pun! Selesaikan masalah ini dengan kepala dingin!” Pak Muh akhirnya menjadi penengah dalam kemelut yang terjadi di antara aku dan Daniel.

Beberapa saat suasana menjadi hening bahkan nafasku sendiri dapat terdengar begitu harmoniknya. Kini aku benar-benar menjadi orang asing di antara kawan dan guruku sendiri.

Di tengah suasana yang mencekam ini tiba-tiba terdengar HP Daniel berbunyi,

“beep.beep.beep.”

Ada pesan singkat yang diterimanya. Ia langsung membuka HP.

“Siapa?” Pak Muh Mengawali pembicaraan.

“Nugi!” dengan ketus ia menjawab pertanyaan dari guru yang selama ini telah sabar membimbing kami.

Tanpa diminta, tiba-tiba Daniel membacakan isi pesannya,

“Pastinya kami semua selalu mendoakan kalian! Sukses ya diperlombaan besok. Berikan yang terbaik untuk sekolah kita dan maaf kami tidak bisa ikut mendukung kalian di Jogja. Semangat!!! Salam dari kawan-kawan. Nugi.”

Pesan itu dari Nugi, teman sebangku aku. Sepertinya dia sudah membaca tulisan yang aku kirim di facebook tadi pagi. Andai mereka tahu semua yang telah terjadi.

“Doa mereka tidak akan pernah terkabul!!!” kata Daniel.

Hati dan pikirannya seperti diselimuti oleh kebencian.

Ini semua memang kesalahanku. Mengapa dari awal aku tidak meyimpannya ke dalam laptop? Aku sungguh menyesal!

“Aaaaaaaaa…” Aku menjerit ke arah jendela.

Oke, aku akan berusaha mencari jalan keluar! Aku tahu kalau cobaan ini masih dalam batas kemampuanku. Aku yakin Tuhan akan memberikan petunjuk-Nya.

“Bagaimana kalau aku meminta tolong kepada Nugi untuk memotret hasil penelitian yang ada di labolaturium? Kemudian semua itu bisa dikirim lewat e-mail!” ini dia, aku menemukannya. Masih ada cara untuk memperbaiki semuanya!

“Ya boleh, cepat kamu hubungi Nugi! Semoga saja dia bisa membantu!” Kata-kata Pak Muh membuatku pulih dan bersemangat.

Untung saja hari ini masih ada kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Aku hubungi Nugi dengan menggunakan HP Pak Muh dan Daniel tidak berbicara sedikit pun kepadaku tapi, aku yakin di dalam hatinya dia masih menganggapku sebagai sahabat.

Nugi setuju dan ia segera memotret hasil penelitian yang ada di ruang labolaturium kemudian, mengirimkannya lewat e-mail. Dengan cekatan, Pak Muh men-download video yang ada di You Tube untuk mensiasati rekaman video yang telah hilang bersama dengan HP-ku. Walaupun dihasil akhirnya masih terdapat kekurangan tapi, setidaknya semua usaha telah dikerahkan dengan sebaik mungkin untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat.

Mungkin beberapa saat lalu Tuhan marah karena aku terlalu banyak menuntut. Selain itu aku pun pernah menyakiti hati ayah karena ada keinginanku yang tidak dipenuhi olehnya,

“Yah, yang aku inginkan itu HP Blackberry bukan Nokia!!!” bentakku kepada ayah ketika ia membelikan aku HP baru.

Saat itu aku meminta HP Blackberry karena aku merasa malu bila tidak sama dengan teman-temanku yang lainnya. Maka dari itu Tuhan mengambil HP-ku dan memberikannya kepada orang lain.

“Pemenangnya adalah finalis asal Bandung-Jawa Barat!!!”

“KITA MENANG!! KITA MENANG!!!” Sorak Daniel yang langsung memeluk tubuhku.

“Maafkan akuuu..” ucapku dalam pelukan Daniel.

Daniel melepaskan pelukannya dan memandangku penuh makna, beberapa saat menunduk dan ia tersenyum kepadaku.

Muka memar kami diobati dengan linangan air mata yang menetes semakin deras.

Akhirnya Tuhan mengembalikan apa yang telah Ia ambil dariku. Bukan HP melainkan, Daniel.

Bagiku HP telah memberikan banyak pelajaran hidup. Dulu ia bagaikan zat adiktif yang merubah aku menjadi individualistis, konsumtif, bahkan apatis. Sehingga prestasiku jauh merosot dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Sekarang aku dan gadget-gadget-ku menandatangani sebuah nota kesepakatan bahwa kami akan bersimbiosis mutualisme. Aku benar-benar dapat mengalahkan Sang Mentari karena aku dapat bersinar lebih terang menyinari dunia. Skor telak 2-0.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s