Satu Paragraf, Cukup!

Arsip : 25.11.2013 22.32

Aku ngga inget? Ini udah yang keberapa kalinya aku tak-tik-tak-tik berisik sendiri di depan laptop buat “cerita tentang pengalaman yang berkesan selama mengikuti pelatihan di Cakrawala Baca”?!

Satu? Dua? Tiga? Empat? Lima? Ah mungkin lebih dari segitu, sampai aku bingung mau mulai cerita dari mana dulu? Di lembaran Ms. Word yang terus aja aku hapus.

Sampai-sampai, kayanya ngga perlu deh ngebagiin cerita segala! Soalnya yang lebih penting itu bagi-bagiin rasa! Ya ngga? Gimana rasanya selama mengikuti pelatihan di Cakrawala Baca!! Dan rasanya itu… Luar biasa!!! Amazing!!!

Ya, lagi-lagi salah satu dari ‘target itu’ berhasil ditembus! Setelah lolos menjadi salah satu voluntouring di Cakrawala Baca, akhirnya aku bisa juga bertemu dengan orang-orang hebat (tambahan : menjadi gadis desa #juga).

Dari pertemuan dengan orang-orang hebat, aku berharap bisa ikut tertarik oleh magnet kehebatan mereka tapi, kenapa rasanya jadi “biasa-biasa aja” ya??

Ngga hanya satu, bahkan enam Pengajar Muda sekaligus benar-benar berada di hadapan mataku malam itu. Mereka tidak sedang mengajar dipelosok Dayeuh Kolot melainkan, mereka sedang men-training aku dan pasukan CB lainnya untuk project kami di bulan Januari mendatang. Mudah-mudahan! Januari nanti kami memang benar-benar berada di pelosok, tidak hanya di sekitar Dayeuh Kolot.

Sedikit cerita, sebenarnya aku tuh tipe orang yang agak ngeyel atau sejenis makhluk penasaran gitu. Coba deh diinget-inget pas gathering pertama kali, malam itu kan ada satu sosok Pengajar Muda yang datang kan ya? Tapi, masa ia sih? Beneran Pengajar Muda gituh? Mau langsung percaya aja nih?

Jadi iseng-iseng, besok harinya aku buka deh website Indonesia Mengajar buat menelusuri profile Pengajar Muda, ngeliatin satu-persatu foto dari sekian banyak Pengajar Muda hingga akhirnya aku pasrah karena jujur! Aku lupa bagaimana sosok Pengajar Muda yang di saat malam gathering datang, ditambah lagi aku lupa siapa namanya.

Sttt, bagi yang baca tulisanku ini dimohon untuk diam-diam aja ya..

Hmmm entah curhatan ini garing, hambar, atau bahkan krik-krik? Tapi saat ini aku ngerasa aneh sendiri, aku ngerasa jadi orang yang paling kurang kerjaan sampai bisa sepenasaran itu zzzz..

Akhirnya, di pertemuan pertama pelatihan voluntouring CB aku percaya deh kalau enam sosok Pengajar Muda yang datang benar-benar pernah mengabdi selama setahun di berbagai pelosok Indonesia (ya, mungkin karena aku ngga sempet melacak mereka satu per satu di website Indonesia Mengajar hehehe).

Sebenernya, tugas ini tuh buat apa ya? Buat nge-resume materi yang udah dikasih sama enam sosok Pengajar Muda itu? Atau sekedar berbagi pengalaman aja, ngga perlu secara men-detail?

Tapi, satu yang pasti! Pelatihan ini telah banyak menginspirasi kami para voluntouring CB. Bahkan semangat yang saat ini hadir khususnya di kehidupanku sendiri, ternyata lahir dari pejuang-pejuang cilik yang berada di negeri terpelosok.

Pelatihan dengan latih kata dasarnya,

“Dengan berlatih maka semuanya menjadi lebih sempurna.”

Memetakan setiap anak pada kemampuan dasarnya masing-masing, aku kira mudah? Dan ternyata, tidak hanya cukup dengan mengenal barang sehari atau dua hari saja. Menarik perhatian anak agar terfokus pada kita, coba deh latihan langsung! Tiba-tiba aja aku kaku sambil memasang wajah linglung karena memang hanya sedikit yang baru aku ketahui. Apalagi untuk menjadikan duniaku dan dunia mereka sama, mungkinkah aku harus kemballi ke masa kanak-kanakku dulu? Menjadi anak-anak lagi, baru setelah itu berbaur bersama dengan mereka?

Itu mengapa aku merasa “biasa-biasa aja” karena hebat tidak hanya cukup bertemu dengan orang-orang yang telah dulu hebat. Melainkan, menjadi hebat itu kalau ilmu benar-benar bisa diamalkan! Seperti enam sosok Pengajar Muda yang hingga saat ini masih terkaca di mataku. Tentu saja mereka adalah guru yang benar-benar patut ditiru.

Aku yakin, tidak mungkin ‘orang yang hanya biasa-biasa saja’ bisa mengajar di tengah keterbatasan. Mereka itu pastilah orang-orang hebat! Hebat bagi dirinya sendiri yang tetap bertahan walau ditempa oleh keadaan dan juga hebat bagi oranglain karena tidak hanya berusaha untuk menghebatkan diri sendiri.

Yeah, akhirnya berhasil juga bikin tulisan yang ngalor ngidul karena jujur aja sebenernya sepulang dari Buninagara banyakkkkk pengalaman yang pingin aku tulis tapi kenapa rasanya jadi berat banget? Setiap ganti paragraf pasti aja dihapus lagi dan lagi karena ngerasa tulisan yang dibuat itu ngga ada indahnya sama sekali! Padahal aku tahu kalau Buninagara itu salah satu negeri tersembunyi yang paling indah.. Positive thinking! Mungkin ini salah satu cara Allah membiarkan ‘rasa itu’ tetap terjaga ‘di sini’. Ahhh melow lagi, skip.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s