Mencium Buninagara :*

Kalau saja hari ini dan bahkan malam hingga detik ini, aku masih terus bercerita tentang Buninagara.. Apa yang akan orang lain katakan, terhadapku? Terlalu mendramatisir…

Tidak..

TIDAK SAMA SEKALI!

Biarkan aku mengungkapkan semuanya di sini ya, di tempat ini, bolehkan?

Hmmm..

Sepertinya aku memang tidak cocok pergi ke lain tempat, tempat yang bisa membuatku terpaku akan semua yang menyangkut kenangan di tempat itu.

Malam ini, aku mencium harum yang kembali menghadirkan awan mendung di atas langit khayalku.

Wangi itu, wangi perapian rumah Bu Alit.

Ya, ternyata surat dari Dimas harum sekali dengan aroma dahan-dahan pepohonan yang terbakar. Tempat di mana semua sanak keluarga mencari tempat, mengisi bagian yang kosong seraya menghangatkan tubuh yang menggigil kedinginan pun hati yang juga perlu kehangatan.

Baru malam ini aku sempat membuka surat-surat mereka lagi.

Kak Aya kangen kalian semua :’)

~~~

Kakak ngga mau berbagi kesedihan dengan yang lain bila posting status di fb atau ngetweet di twitter, biarkan Kak Aya endapkan di sini ya..

Agar suatu saat nanti, kalian semua bisa membaca tulisan yang Kakak sematkan khusus untuk kalian jagoan-jagoan cilik Kakak di Buninagara :’)

Ya?

Malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s