BN Selalu Tersenyum

Setelah waktu yang lama, akhirnya jagoan Kak Aya muncul lagi.
Eka.
Semalam tadi ia sms dan sungguh mengejutkan.
Yang aku tahu, Eka ngga punya hp.
Maka dari itu, dulu ia selalu bilang ingin menabung untuk membeli hp.

“Hari pertama, pulang sekolah Eka sama Dimas langsung tidur terus malemnya sehabis maghrib nangis. Bilang kalau kakinya pegel, sakit..” Kata Mamahnya Eka, cerita.

Dalam pikiran, aku membayangkan bagaimana saat mereka (Adik-Adik di BN) naik truk angkutan teh PTPN VIII bersama para pemetik teh lainnya menuju sekolah yang jaraknya jauh. Dengan medan yang aku akui kesulitannya untuk bisa ditakluki, belum lagi jika hujan turun dan membasahi semuanya.

“Ya Allah Eka, masa ‘eleh’ baru kitu ge..” Lanjut Mamahnya Eka bilang seperti itu kepada anaknya, ia bercerita kepadaku.
(Ya Allah Eka, masa kalah baru gitu aja)

Tapi semalam aku diberitahu oleh Ayahnya Eka bahwa Eka sekarang semakin semangat sekolah.
Aku pun tahu Ayah dan Ibunya Eka memiliki cita-cita tinggi untuk anak laki-laki pertamanya ini.

“Ia Neng, Eka juga pingin kaya Kakak-Kakak bisa sekolah sampai perguruan tinggi.” Ayahnya Eka bilang dalam sms.

Sejauh ini aku hanya bisa menyemangati mereka, bahwa ini adalah awal, pemanasan.
Toh nanti SMP mereka akan sekolah ke Ranca Bali dan juga SMA yang insyaAllah bisa melanjutkannya. Amin Ya Rabb..

“Eka buka sama apa?” Tanyaku.

“Ah, apa? Kak Aya buka sama apa?” Balas Eka bertanya kepadaku.

Meski sebenarnya berat menanyakan hal seperti ini kepada Adik-Adik di BN. Di mana makanan masih menjadi kendala, makan hanya dengan nasi putih tanpa lauk istimewa pun sudah sangat bersyukur.

“Kak Aya makan sama sayur aja tadi..” Jawabku.

“Kalau aku mah, makan sama ‘jukut’.” Suara Eka mengecil dan diakhiri dengan sedikit tawa kecil di akhir percakapan. Aku tahu dia selalu merendah terutama karena keterbatasannya. (jukut = rumput)

“Eka makan sama bobontengan..” Lanjutnya.

“Bobontengan? Yang masak Ibunya Eka? Ditumis ya? Waaa, pasti enak. Nanti masakin buat Kak Aya ya..” Balasku panjang.

Bobontengan itu buah sebesar jempol dan gendut, berwarna hijau muda yang mencolok mata. Memiliki rambut kasar yang cukup panjang namun jarang dan rasanya sama seperti timun. Aku pernah makan bobontengan, dulu. Ketika menemukan pohonnya di jalan menuju sekolah. Tanaman liar yang menjalar, menumpang dengan tanaman lain yang lebih kokoh batangnya. Memang terasa seperti timun dengan banyak airnya, biji di dalamnya, namun aku rasa agak pahit. Mungkin karena baru pertama kali mencoba dan belum terbiasa dengan rasanya. Namun Adik-Adik di BN selalu bilang kalau bobontengan itu enak sekali.

Aku ingat bagaimana dulu Eka membawa bekal nasi dan kerupuk ke sekolah. Ia, hanya itu. Tanpa lauk lain kecuali kerupuk saja. Tanpa malu, tanpa ragu, tanpa berkecil hati, dan dengan penuh kesyukuran ia makan ketika jam istirahat tiba di meja paling depan di dalam kelas. Ia tawarkan bekalnya itu kepada Kakak-Kakak Cakrawala Baca lainnya. Termasuk Teh Tari. Eka yang penuh syukur dalam hidupnya, Eka yang selalu mendoakan orang lain tanpa lelah dari lidahnya. Eka jagoan Kak Aya yang luar biasa, semua jagoan Kak Aya di Buninagara. Kak Aya sayang banget sama kalian semua, Kak Aya pingin kalian semua bisa membuat kehidupan yang lebih baik untuk orangtua dan keluarga kalian.

DSC04127

Biarkan orangtua kalian beristirahat, biarkan kalian yang membahagiakan mereka dengan tidak lagi membuat mereka harus bekerja memetik teh setiap hari. Melawan badai di tengah perkebunan, melawan dingin-angin dan semua ancaman yang berada di sana.

#SemangatBN!
#SemangatAnakIndonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s