Luar Biasa Bahagia Di Masa Kecil

Beberapa waktu ini, aku kurang suka membaca buku-buku tebal karena melulu dituntut untuk berduaan dengan e-book. Buka-tutup laptop yang kurang bersahabat dengan mata ini.

Jadi, telah aku putuskan untuk lebih banyak menulis!

Dari apa pun itu, dari pengalaman langsung maupun dari cerita sahabat-sahabatku.

Oke, yuk mulai!

Dulu ketika kecil, aku senang sekali nonton film India

Masih sangat menempel diingatanku ketika Mamah mengajakku pergi ke ITC Cempaka Mas untuk berbelanja. Beragam toko kami lewati hingga akhirnya aku melihat deretan DVD yang terpajang di etalase. Entah apa yang saat itu kuingat? Langsung kupanggil Mamah yang telah berjalan lebih dulu di depanku.

“Mah, beliin DVD India..” Pintaku ke Mamah.

Kasihan Mamah, harus melewati masa-masa itu? Masa merawat anak SD kelas 1-3an yang memiliki hobi nonton film India.

“Ah apaan sih?! Udah ngga usah, film apaan juga itu?!” Tegas Mamah, menolak.

Kutarik Mamah hingga sampai persis di depan penjual DVD.

“Ini Mah DVD-nya, rame banget, film baru!” Rengekku.

Di sisi lain, si penjual DVD terus memanas-manasi kami 😀

Dan akhirnya niat hati ini pun berhasil diwujudkan!

20120217113104Beberapa hari kemudian Mamah bilang, “Sekarang, kalau siang hari polisi datang ke rumah-rumah untuk ngerazia orang-orang yang lagi nonton film India. Makanya, jangan nonton film India lagi!”

Seketika aku percaya begitu saja, hingga kini usiaku telah 20 tahun dan aku baru menyadari bahwa dulu Mamah pernah berbohong.

*Saat ini? Aku tidak lagi hobi nonton film India, hanya beberapa kali saja menemani Bibi di rumah :p

Dulu ketika kecil, aku senang sekali ‘ngedot’

Entah usiaku saat itu berapa? Tapi yang kuingat, aku sudah bisa berlarian ke sana ke mari hingga main bersama teman di luar rumah namun, aku tetap masih saja ngedot.

Memang bukan susu lagi, susu kesuakaanku Sustagen coklat. Namun berisi teh manis atau air putih, kalau tidak salah?

Hingga, “Mah, pingin ngedot..”

Tentu ngedotnya di botol ya kawan!

“Dot-nya juga ngga ada, digondol anjing. Semalem masuk rumah..” Jawab Mamah.

Mengingat, dulu di kompleks perumahanku banyak sekali warga yang memelihara anjing hingga meliarkan mereka. Bebas berada dan berlarian di jalanan mana pun. Aku lupa apa nama anjing yang warga kompleks anggap ia rabies dan itulah anjing yang Mamah maksud telah mengambil dot kesayanganku. Begitu saja aku percaya hingga kini aku besar, aku sudah tidak lagi ngedot :p

Dulu ketika kecil, aku bandel pake banget!

Selain nonton film India di tv dari pagi hingga sore hari, hobiku yang lainnya adalah main bersama dengan teman yang kebanyakan laki-laki. Dari main tos kartu (aku selalu menang), main congklak (ini anak laki-laki pun mau, senang main congklak), menyewa becak mini (dulu ngeterend  banget, aku lebih suka ngegoes daripada naiknya), main petak umpet seluas komplek (start-nya dari rumah, paling enak ngumpet di lantai dua masjid sambil mengwasi teman, atau kabur naik sepedah), nyari ikan di got (pakai saringan yang ada di rumah, saringan ikan koi untuk di kolam air terjun), main kelereng/gundu (aku selalu menang dan mengumpulkannya hingga setoples penuh, kalau kelereng/gundu yang bagus dipisah di plastik dan ngga dimainin), juga main gobak sodor/asin di jalan aspal depan rumah hingga larut malam. Ah pokoknya nakal banget!

Oia, dulu pas masih kecil aku juga master dalam menerbangkan layang-layang. Ketika sekolah jam 12, sebelumnya aku menerbangkan layang-layang dulu di depan tempat parkir tukang ojek, sekitar jam 10-an. Terus pamer kebolehan deh tuh sama Bapak-Bapak yang lagi pada nungguin penumpang, layang-layang aku tarik-ulur. Pas Mamah manggil buat pakai seragam, aku iket layang-layangnya di pohon mengkudu. Udah selesai pakai seragam, aku turunin deh layang-layangnya. Wah, apalagi kalau udah ke JB (Jalan Baru), tempat jogging orang-orang kompleks. Ngeliat lapangan sepak bola yang luas, langsung deh loncat dan ngambil ancang-ancang untuk nerbangin layang-layang. Sepulangnya, nangekpin dulu belalang terus dimasukin ke plastik.

Dan tiba suatu ketika Mamah marah besar melihatku yang hobi banget main hingga lupa waktu, ngga pulang, ngga makan. Mamah menggembok pintu besi (gerbang), pintu kayu pun dikunci, dan kuncinya diumpetin lalu apa yang terjadi? Aku terang-terangan keluar lewat jendela yang kebetulan jaman dulu belum ngetrend tuh yang namanya pakai tralis. Aku kelas 1-3an kalau ngga salah. Terus pintu besi (gerbang), aku akal-akali hingga bisa terbuka.

HORE HORE HORE! MERDEKA!

Dulu ketika kecil, aku punya 2 sahabat laki-laki

Namanya Ijul dan Billy, Ijul anak Pak RT (dulu mah manis, ngga tau sekarang? Kaya Nobita gitu, rada sok bandel padahal ngga bisa bandel. Tapi takut kalau udah dimarahin sama Ayahnya, Pak Adjib) dan Billy (dia itu bandelnya ngga ketulungan, kalau kata orang mah amit-amit. Mungkin sekompleks pun sudah kenal siapa Billy? Punya Adik namanya Caesar). Kami ini sabahat kecil yang enah kenapa bisa lengket? Mungkin karena Mamah, Ibu, Mamih kami saling mengenal dekat.

Ah, rasanya ngga ada kisah yang ingin aku bagikan karena semuanya terlampau indah :’) Aku rindu masa kanak-kanakku.

Tapi, kini saatnya sedikit saja blak-blakan. Hihihihihi

Saat itu Ijul sempat aku ajak adu minum es doger/dawet.

“Ayo, kita cepet-cepetan abisin es dawetnya!” Tantangku.

Hap hap hap, namanya laki-laki masih kecil juga nafsu makannya udah besar.

“Yeee, aku habis..” Kata Ijul.

“Ye ye ye ye ye, aku masih banyak..” Bilangku yang telah membohonginya.

Mana enak coba minum es cepet-cepet? Nikmatin aja kali Jul Jul :p

Ijul ini anak Mamih, duh jadi inget Sadam di film Petualangan Sherina. Persis banget! Hobinya ngetek di ketiak Ibunya. Kalau Ibunya pulang dari mengajar, pasti Ijul langsung pulang ke rumah dan ngga keluar-keluar lagi. Kecuali kalau Ibunya ngegosip sama tetangga, baru Ijul akan ikut keluar. Hobinya minum susu coklat, badannya kurus kecil, makanya Ibunya beliin Ijul susu coklat kotakan kecil sedus besar. Biar kalau Ibunya ngajar, Ijul masih bisa minum susu.

Kalau Billy, dia ini ‘oces pisan’ kalau bahasa Sundanya mah. Tapi apa di kata? Kami bertiga selalu bersama hingga di saat-saat terakhir sebelum ia pindah rumah, kami bermain di teras rumahnya dan apa yang terjadi?

Billy mengambil buku catatan Ibunya dari kamar lalu menunjukan sesuatu kepada kami. Nominal hutang-hutang Ibunya yang belum lunas dan lumayan besar pada saat itu. Ghahahaha parah banget memang Billy 😀

***

Hmmm, di mana pun kalian saat ini sobat, aku akan selalu mengingat masa-masa kita dulu.

Sahabat kecil yang bermain hingga lupa waktu dan mungkinkah kita kan bertemu lagi? #IHope!

Terlalu banyak kisah manis di masa kecilku dulu, dari aku berfoto ria dengan orang hutan, orang hutan yang ganjen dan ingin mengambil isi di tasku. Aku jatuh dari mobil karena saat itu memaksa ingin duduk di pintu yang memang rusak. Jatuh ke jalan raya, tepatnya di jalan pinggir danau Perumahan Duta Harapan Bekasih dengan cara menggelinding hebat. Hilang di taman seni Ancol saat pementasan anak-anak TK namun bisa kembali bertemu. Hobi ngamuk bukan main hingga dikurung di kamar mandi TK atau bawa gunting dapur untuk mengancam teman. Duh, pokoknya buanyak pisan euy!

Karena memori ada dua jenis yaitu yang pertama adalah memori jangka pendek (mudah lupa) dan yang jedua adalah memori jangka panjang (selalu diingat). Sedangkan kebahagiaan adalah jenis memori jangka panjang, maka banyak-banyaklah membuat serta menyimpan memori bahagia di hidup kita 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Luar Biasa Bahagia Di Masa Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s