Pemanasan dari Ilmi 2013 untuk Zafer

Di ILMI 2013

Di sini, tempat pertama kali Allah mengajakku untuk berjalan dan berlari bersama dengan keluarga seiman. Namun bukan kisah panjang yang akan kuutarakan, melainkan setitik nilai yang kini baru aku pahami. Alhamdulillah..

Beberapa saat yang lalu, aku memetik sebuah pelajaran dari kajian yang diisi oleh Aa Gym di salah satu stasiun radio (MQ fm). Bahwa,

“Lebih baik 1000 kritikan dibanding 1000 pujian!”

Yes! That’s it!

Klimaks yang kudapatkan di ILMI kala itu..
Siang menjelang sore dari kepulangan kami untuk kembali menuju kampus Telkom. Puncak perjuangan, puncak keletihan, puncak kelelahan yang kuakui benar-benar menjalar hingga ke seluruh tubuh bahkan berujung dengan rontoknya tulang-belulangku hingga linu dan berlinang air mata.
Namun semangat dan dukungan dari mereka yang juga sedang kelelahan telah lebih dari cukup membuatku tetap bertahan untuk bernafas. Lalu tetiba, sering ada yang memuji tentang ketahanan diri ini. Dan bukan berpuas hati yang kemudian terselimut di hati, melainkan usahaku yang semakin gigih agar bisa memberikan yang terbaik sekuat tenaga.
Aku lupa diri! Padahal aku bukan siapa..

Tekanan pun terjadi.
Saat itu, aku yang bertugas di divisi dana konsumsi dan obat-obatan mulai kewalahan dengan peserta yang satu per satu jatuh sakit akibat telat makan karena alur konsumsi yang tetiba kacau. Belum lagi, perjalanan dari vila hingga tempat ikhwan yang kami (akhwat) tapaki seraya menceritakan kisah perjalanan musafir di padang pasir, jauh bukan main dengan perbekalan seada-adanya.
Aku kehilangan koordinasi dengan ikhwan yang bertugas dalam mobilisasi konsumsi, sejak memulai outbond (pagi hari). Sms tak dibalas hingga hp yang mati total, sedihnya bukan hanya aku tapi hampir sebagian besar dari kami.
Yang kuingat, kami semua digiring ke sana ke sini dengan medan yang lumayan menyenangkan dengan berharap akan mendapat sebungkus nasi di akhir perjalanan.

Lalu menekan lagi.
Aku sadar dengan apa yang telah terjadi. Seberapa jarak antara aku dengan amanahku saat ini? Begitu lekat namun tak bisa kujangkau. Teteh SC-ku pun jatuh sakit dan tidak dapat turut bersama dengan kami. Memang inilah awal dari saatnya aku berjuang di luar batas kemampuanku.

Maaf Teh, memang salahku saat itu hingga sarapan habis, tak kusimpan barang sedikit pun. Padahal medan kali ini bukan sekedar main-main dan beratnya lagi, Teteh bilang tak apa.. Ya, Allah akhirnya menguji pada titik di mana kita berada.

Sedikit pun tekanan itu tiada berkurang.
Sedih melihat banyak yang menanyakan nasi, sedih melihat banyak yang jatuh sakit dan tidak bisa lanjut berjalan, sedih melihat Teteh yang kurasa murung padaku. Dan itulah hal yang kuakui paling menghujam diri, kehilangan sesosok motor penggerak yang baru saja senyumannya memudar.
Namun benar! Sudah kubilang, aku bukan siapa! Hanya seorang ingusan..
Tapi, aku ngga mau sampai akhir terus begini, banyak yang kulakukan untuk oranglain hingga lupa dengan Tetehku sendiri.
Masih sangat jelas gambaran diingatan saat peristiwa itu terjadi. Aku memaksa Allah untuk menyatukan hati kami kembali di dalam sebuah masjid.

Hanya tekanan dan tekanan.
Tiba-tiba salah seorang akhwat berlari menghampiriku dan berkata bahwa semua yang berada di mobil x belum mendapat makan. Ah, semakin menjadi-jadi.. Aku kelimpungan dan partnerku yang hanya satu-satunya telah lebih dulu berada di atas mobil yang mengarah pulang. Jalan terakhir  ya hanya mengejar mobil ikhwan yang menyimpan sisa perbekalan. Tanpa pikir panjang, aku keluar dari masjid dan berlari sambil melambaikan tangan ke setiap mobil yang kukejar dari belakang. Tak ada yang berhenti. Padahal bukan semeter dua meter, kurasa beratus meter aku telah berlari mengejar namun tak kunjung ada jawaban bahwa nasi terdapat di atas mobilnya.

Apa yang aku pikirkan saat itu? Entah, seperti lebih dari sekedar terjun dari ketinggian sebuah jurang.
Hingga kulihat salah seorang ikhwan yang berada di bagian dalam tronton mengetuk badan mobil agar supir menghentikan laju kendaraan. Aku berujar sambil menarik nafas panjang, lalu menengok ke belakang melihat beberapa mobil yang ternyata telah berhasil disalip, ketika berlari untuk memastikan adakah konsumsi di atasnya?
Kemudian aku diberi sebungkus plastik hitam besar yang berisi nasi. Aku berjalan kembali dan banyak mata memandang. Air mataku mulai menetes setibanya mobil-mobil telah berlalu dari sisiku, aku sesegukan di jalanan yang untungnya sepi, hanya ada aku seorang diri sambil memeluk apa yang aku perjuangkan, apa yang menjadi tanggung jawabku. Memandanginya dan betapa mengiris hati.
Aku tidak butuh pujian sama sekali! Tidak!

Sebelumnya, kala aku tahu ada titik terang tentang nasi yang mulai dinikmati oleh para peserta sesaat sebelum tronton berjalan. Aku lebih rindu Teteh SC-ku yang sedang beristirahat di dalam masjid, ingin rasanya melayani meski dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Karena tak akan ada yang sendiri, aku harus ikut menemaninya menahan lapar karena tak ikut sarapan, aku biarkan semua bagian habis saat ia pergi memalingkan diri. Mungkin ketika itu ia melihatku duduk bersama dengan yang sedang menikmati sarapan, padahal pesan sesungguhnya tidak seperti apa yang ditangkap oleh matanya. Hingga hari itu, benar-benar hanya kita berdua yang pantas mendapat ujian dari Allah. Hari yang sungguh luar biasa Teh, bagimu dan bagiku..

Mengapa yang kini memutar di dalam fikiran berupa bagian-bagian keluh dan kesahnya saja? Melihat banyak Adik terkapar bahkan hingga sesak nafas dan membutuhkan oksigen (5 orang lebih membutuhkan tabung oksigen padahal kami hanya menyediakannya satu). Mereka yang tahu apa tugasku, sempat melihat dengan bentuk yang lain dari biasanya (entah itu memunculkan senyum ikhlasnya karena aku telah memperjuangkan setiap bungkus nasi hingga dapat dinikmati atau bahkan pandangan sinis lantaran kecewa). Salah seorang teman seperjuangan yang luar biasa pun lemah selemah lemahnya, padahal kutahu ia yang paling kuat di antara kami semua.

Ya, memang semua ini terjadi karena tidak ada jalan komunikasi. Hp yang tak terjangkau akibat batre, sinyal, dan berbagai hal teknis lainnya.

Tekanan = tempaan
Ternyata itu semua hanya pemanasan, di sini, di saat ini tak ingin kuulangi jatuh dengan air mata yang sama. Tujuanku menjadi salah seorang akhwat tangguh yang dapat belajar dari pengalaman di saat dirinya sedang berjuang.

Di Badan Mentoring.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s