Hidup Tidak Sempurna

Karena kita semua adalah sebaik-baiknya penciptaan Allah SWT

Jatinangor, 29 November 2014. Pemasangan kaki dan tangan palsu dalam rangka Megabaksos Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran 2014.

Pukul 09.xx kami semua berangkat menuju Jatinangor dari Sukapura, tempat menginap. Hari yang mulai terik, pun dengan rasa sabar yang semakin tidak terbendung. Planning awal untuk berangkat jam 08.00 pagi pupus karena supir angkot yang hendak membawa kami baru bisa menjemput sekitar pukul 9 lebih.

Hari inilah yang aku tunggu-tunggu, terlebih oleh Pak Alit yang ingin segera memakai kaki palsu seperti harapannya dan juga Adik-Adik yang ingin sekali menjelajah kota impian mereka, Bandung. Bersama kami, Kakak-Kakak mereka.

Meski sebenarnya tidak ada persiapan khusus, mengingat kegiatanku di kampus yang masih memberondong untuk terus mengharuskan hadir. Praktikum hingga ORION.

Mengunjungi kampus yang luasnya berkali-kali lipat dari kampusku, putih biru (kini merah tua), kemudian memberi unjuk ini-itu kepada Dimas dan Eka, berharap mereka bisa belajar lebih banyak di tempat ini, maupun di sepanjang perjalanan, banyak sekali hal yang mengundang pertanyaan dari mereka berdua, khususnya Eka.

‘Dimas, Eka, lihat IPDN. Kak Aya harap kalian ataupun Adik Kak Aya yang lainnya bisa ada yang bersekolah di tempat itu ya. Atau di kampus ini, kampus yang kini sedang kita kunjungi. Universitas Padjajaran.

Menunggu, menunggu, dan menunggu bersama kedua Adik cilik ini, Pak Alit, dan juga salah seorang sahabatku, Shiyaam. Senang, bisa bersama dengan mereka, meski tidak di Buninagara, karena ini adalah perjumpaan yang dapat melepaskan rindu antara aku dengan Adik-Adik setelah lama tidak bertemu. Syukurnya, pertemuan kali ini adalah pertemuan yang cukup panjang.

Sempat bosan, sempat jenuh, sempat lelah, sempat merasakan ketidak nyamanan karena berlama-lama di tempat menunggu dengan ketidak pastian, kapan tepatnya Pak Alit akan dipasangkan kaki palsu? Sekian kali bertanya, “Ini sudah nomor urut berapa ya?” Selalu saja jawabannya, “Masih nomor urut 7, belum sampai belasan.” (jawaban saat bertanya jam 1 dan jam 3 sore ke salah seorang panitia). Heran, mengapa bisa? Hmmm..

Mungkin sama seperti pertanyaan orang lainnya, “Memangnya berapa lama dipasang kaki palsu? Berapa orang sekali dipanggil? Hari ini semuanya akan dipasang kaki palsu kan?”

Saat-saat paling hangat di antara kami, saat duduk menunggu sambil bercengkrama hingga bercanda, saat sholat dan saling mengingatkan, saling tertawa dan bercerita bahagia, saat jalan-jalan santai menelusuri Universitas Padjajaran, mengunjungi GOR dan melihat permainan softball, berfoto bersama, hingga jajan di pinggir jalan. Semuanya biasa tapi bersama mereka, semuanya berubah istimewa.

Ketika makan, Shiyaam heran kenapa ayamnya ngga dihabiskan oleh Eka dan Dimas? Malah disisakan? Kalau dari film komedi yang aku tonton, pepatah mengatakan, “Bagian terenak dimakan terakhir.” Tapi aku rasa bukan itu maksud mereka. Karena setelah pemasangan kaki palsu ini kami berencana langsung pulang ke Ciwidey, mungkin saja bila mereka menyisakan ayam katsu itu untuk yang di sana. Di rumah. Entahlah, memang begitu polah tingkah anak kecil.

Bapak Misterius

Memang, kemana pun kita pergi, ilmu pasti akan selalu melekat di kepala kita, ilmu yang paling berharga dan bermanfaat. Itulah sebabnya setiap orang diwajibkan untuk mengamalkannya. Tidak terbatas pada waktu dan tempat saja.

Saat menunggu Pak Alit, Eka, dan Dimas selesai menunaikan ibadah sholat dzuhur, aku dan Nur duduk ditemani dengan salah seorang Bapak misterius. Kami lupa menanyakan namanya? Mungkin usianya 50 sampai 60 tahunan. Tapi aku tahu di mana ia tinggal, tidak jauh dari Ranca Buaya, di daerah sekitar Selatan Jawa Barat. Bapak yang langsung mengajak ngobrol kami, ia bercerita hingga menitipkan sebuah pesan untuk aku dan juga Nur. Pesan berupa doa yang hendaknya dapat kami lantunkan setiap saat.

Bapak misterius yang rasa-rasanya menjadi jawaban dari pertanyaanku selama ini, “Aku ingin bertanya kepada seseorang tentang doa apa yang paling baik diucapkan setiap kali selesai sholat?”

Bapak misterius ini bilang kalau kami harus selalu dekat dengan Allah karena kalau kita dekat dengan Allah maka segala-galanya akan menjadi mudah. Kita harus rajin membaca Al-Qur’an, 1 juz selesai sholat subuh dan 1 juz setelah sholat maghrib, sholat tahajud (minimal 4 raka’at + 3 witir) secara terprogram, dan tentunya jangan pernah putus/meninggalkan sholat wajib. Hal terakhir itu yang paling ditekankan, jangan sampai tidak.

Bapak misterius ini bilang, meskipun Bapak cacat tapi hati dan fikiran Bapak tidak. Kalian pun yang sudah diberi kesempurnaan fisik dan wajah, harus menjadi wanita shalihah.

“Sepinter apa pun orang, kalau jauh dari Allah, ngga akan sukses!” Pesannya.

Di sini aku belajar kalau kapan pun dan di mana pun, kita bisa mengamalkan ilmu yang dimiliki, memberikan ilmu ke orang lain, siapa pun mereka. Terimakasih banyak Pak atas pelajaran berharganya. Seorang Bapak yang dulunya gigih bekerja di bidang kesehatan masyarakat meski memiliki kaki yang tidak sempurna, kini memiliki madrasah dan juga pondok pesantren, bercita-cita agar kelak anaknya dapat sarjana dan menjadi dokter. Senang katanya, melihat anak-anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran yang mau menolong orang lain.

Berbeda Kemampuan

Aku mengingat sebuah kalimat motivasi dari salah seorang yang memiliki keterbatasan fisik, “Seandainya saya bisa melihat untuk beberapa saat saja, pasti saya akan bisa melakukan banyak hal.”

Kalimat sederhana yang amat mengagumkan, untukku. Kalimat yang aku sukai hingga menempel di dalam pikiranku terus. Bahwa bila orang yang berbeda kemampuan saja akan bisa melakukan banyak hal bila mata mereka tetiba bisa melihat untuk beberapa saat, maka bagaimana dengan aku? Dengan aku yang memang sejak lahir hingga saat ini Alhamdulillah bisa melihat dengan normal. Seharusnya aku bisa melakukan banyak hal luar biasa sepanjang perjalanan hidup ini. Aamiin.

Siang itu, Alhamdulillah berkesempatan untuk menyimak talkshow keren dari panitia Megabaksos Universitas Padjajaran. Suntikan motivasi yang berasal dari orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda.

Namanya, Kak Habibie. Dia mengalami kelumpuhan akibat sakit yang melumpuhkan sel syaraf atau ototnya, bukan penyakit yang timbul setelah kelahiran, melainkan penyakit yang timbul akibat terjadinya kesalahan pada saat mutasi gen ketika masih di dalam kandungan. Aku tidak mengerti juga, mungkin nanti bisa dipelajari lebih lanjut dari sumber yang relevan terkait penyakit bawaan ini.

Sosok Ibu hebat, yang bisa menerima segala kekurangan anaknya. Begitu pun kondisi cacat anaknya yang seumur hidup akan selalu nampak. Aku belajar dari Ibunya Kak Habibie. Sungguh! Bagaimana menjadi Ibu super hingga bisa pula melahirkan seorang anak yang super, mendidik hingga membesarkannya dan menjadikannya mandiri meski dengan segala keterbatasan. Ibunya Kak Habibie berkata bahwa jangan pernah melihat kekurangan anak kita tapi lihatlah kelebihannya, jangan membeda-bedakan perlakuan terhadap anak meski dia berbeda, kalau anak salah ya ditegur. Begitu pun dengan keoptimisan Ibunya Kak Habibie untuk tetap kekeuh menyekolahkan Kak Habibie di sekolah formal biasa. Karena menurut hasil pemeriksaan, hanya tubuhnya Kak Habibie saja yang mengalami kelumpuhan, tidak dengan otak/pikirannya. Sungguh, Ibu mana yang sehebat Ibunya Kak Habibie bila ternyata wanita lain yang terpilih menjadi Ibunya Kak Habibie.

“Sejak Habibie masih di dalam kandungan, saya sudah membiasakan diri untuk belajar. Jadi saat itu saya belajar dengan Habibie, biar nantinya Habibie bisa menjadi anak yang pandai..” Kata Ibunya Kak Habibie yang mengajariku bagaimana cara mendidik anak, yaitu sejak di dalam kandungan.

Belum lagi cerita tentang Adik perempuan manis yang terserempet container hingga kakinya terlindas dan harus diamputasi, namun kini memiliki prestasi yang luar biasa. Menjadi penari jaipong dengan satu kaki di usia yang masih sangat muda. Ibu yang lapang dada, menerima kejadian pahit yang menimpa anaknya. Meski kini masih suka merasa iri kepada anak lainnya yang memiliki kesempurnaan fisik, karena anaknya di usia yang masih sangat kecil harus menanggung rasa sakit yang luar biasa yang belum pernah dirasakan oleh orang mana pun.

Kedua sosok Ibu yang berhasil mendidik anaknya menjadi sosok yang tangguh, mengajarinya selalu, tanpa ragu akan kemampuan sang anak. Satu yang paling membekas dipikiranku bahwa,

‘Bila dengan keterbatasan saja seseorang bisa melompat jauh menggapai impian mereka, maka bagaimana kalau seseorang yang normal selalu fokus terhadap kelebihan-kelebihan yang ia miliki?’

Kekurangan yang menjadikan mereka lebih.. Aku sungguh salut, aku sungguh terharu dengan motivasi hidup yang amat besar yang mereka miliki meski hidup dengan kondisi fisik yang tidak sempurna.

‘Karena kesempurnaan hidup dapat kita rancang sendiri dengan usaha dan kerja keras hanya bila kita mau.’

Belajarlah sejak di dalam rahim seorang Ibu, belajarlah menjadi seorang Ibu untuk anakmu, bersamanya, berdua dengannya, sejak dini, hingga kelak ia dewasa. Belajar menjadi seorang Ibu yang cerdas ya, meski saat ini aku masih kuliah 🙂

Siapa aku dan kamu? Yang merasa hidup biasa-biasa saja, datar, flat, dan malahan harus diberi asupan motivasi dari mereka yang memiliki kekurangabn fisik dibanding diri kita sendiri. Rasanya terbalik, bukan lagi kita yang menguatkan mereka. Nyatanya mereka jauh lebih dan lebih kuat daripada kita.

Terimakasih atas hikmah hari ini

Berjam-jam kami menunggu Pak Alit hingga akhirnya ia masuk ke dalam ruang pemasangan kaki. Sekitar pukul 19.00 malam, sekitar 9 jam lebih kami menunggu sejak pertama kali sampai di Unpad Jatinangor. Aku ngga bisa duduk diam di dalam ruangan, aku ingin menyaksikan peristiwa yang selama ini telah ditunggu-tunggu.

Untung saja, sanak keluarga yang mengantar dapat langsung melihat dari jendela luar, menuju ruang pemasangan kaki. Aku lihat Pak Alit duduk berpindah, dari yang awalnya dekat pintu hingga akhirnya dekat dengan jendela kami. Masih harus menunggu peserta lain selesai dipasangkan kaki palsu, baru tibalah giliran Pak Alit yang dipasangkan kaki palsu.

Jujur, aku merasa khawatir karena saat daftar ulang di pagi hari, Pak Alit tidak mendapatkan kartu garansi kaki palsunya. Dan benar saja, saat nomor kaki palsunya Pak Alit dicari-cari, ternyata tidak ada. Lalu percakapan pun terjadi anatara panitia penyelenggara dengan Pak Alit sendiri.

“Pak, hapunteun kaki palsunya teu aya. Mungkin ketuker atau ngga kebawa. Punten pisan ieu mah.”

Setelah itu, intinya Pak Alit diminta untuk melakukan pengukuran ulang di ruangan yang berbeda dan pulang.

“Bapak aslina ti mana?” “Dari Rancabali, Ciwidey.” “Tebih nya, sareng saha ka dieu?” “Sendiri.” “Nganggo naon?” “Angkutan.” Tanya jawab antara Pak Alit dengan Bapak panitia itu.

Dari situ, rasa haru mulai hinggap dan membawa fikiranku beku.

Ya Allah, perjuangan Pak Alit yang selama ini ingin memiliki kaki palsu harus tertunda lagi. Pun dengan kejadian hari ini, seharusnya impian itu bisa menjadi nyata. Inilah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Pak Alit bahkan juga keluarganya di Ciwidey. Aku pun mengingat kembali perjalanan yang harus mereka tempuh (Pak Alit, Dimas, dan Eka) menuju kampusku hari Jumat kemarin. Atau mungkin, entah bagaimana kalau Pak Alit ternyata sudah bilang ke kerabat lainnya tentang hari pemasangan kaki palsu ini namun ketika pulang tidak dengan hal itu? Apakah aku disebut gagal menolong Pak Alit? Apa yang harus aku lakukan mengingat kesedihan mereka, menanggung peristiwa ini. Kami yang telah menunggu, menanti tidak hanya sedari tadi pagi, tapi sejak beberapa bulan yang lalu.

Sebelumnya, ketika Pak Alit sudah berada di ruang tunggu bersama dengan peserta lainnya. Aku, Eka, Dimas yang sedang duduk di tenda lapangan sudah jauh berimajinasi.

“Kita tunggu di sini aja kali ya? Nungguin Bapak sampai keluar ruangan dan selesai pasang kaki palsu. Nanti tiba-tiba liat Bapak keluar, turun tangga udah ngga pakai tongkat lagi, tongkatnya dilempar dan Bapak lari ke arah kita.”

Saat itu ada telepon masuk dan fikiran ini jauh membawaku ke tempat lain.

“Mungkin memang inilah jalan terbaik yang Allah beri untukku, untuk kami. Ketika memang belum saatnya Pak Alit memakai kaki palsu dan Allah masih menginginkan aku untuk bertemu lagi dengan Pak Alit di Bandung. Pun bertemu dengan Adik-Adik. Aku hanya harus ikhlas karena aku lebih memikirkan bagaimana Pak Alit yang juga harus belajar lebih ikhlas daripada aku. Ya, Allah masih ingin aku bertemu dengan mereka bulan depan.” Yang terasa saat itu, hatiku getir namun ikhlas melepas semuanya hingga benar-benar bersih. Plong.

Sejak kepulanganku dari Buninagara dulu, dengan membawa banyak air mata, aku tidak ingin lagi. Aku tidak ingin menampakan semua kesedihan di hadapan Adik-Adik karena hanya akan menyisakan bekas yang mendalam. Inilah pelajaran yang aku petik dari pengalaman langsung hingga saat aku benar-benar tidak bersama dengan mereka lagi. Dan ketika itu hingga saat ini, aku selalu berusaha untuk menahan air mata di hadapan orang lain. Hingga hanya aku saja yang tahu basah di pipi itu.

Tangisku pecah setelah selesai mengangkat telpon.

Dan sekembalinya ke jendela, aku melihat Pak Alit masih ada di dalam ruangan, duduk tenang dan aku heran. Ternyata ada mahasiswa FK Unpad yang memberi kaki palsu kanan untuk dicoba oleh Pak Alit, barangkali pas dan alhamdulillah pas.

Aku masih belum percaya sampai aku terus-menerus menanyakan kejadian itu pada Shiyaam.

Setelah beberapa saat, Pak Alit dipasangkan kaki palsu lagi untuk diukur tingginya apakah sudah cukup atau belum. Dan air mataku menetes lagi..

“Ya Allah, Pak Alit gagah banget dengan dipasangkan kaki palsu.”

Melihat badannya yang tegap berdiri dan mengingat bagaimana Pak Alit ketika memakai tongkat, badannya harus ikut membungkuk.

Semua pelajaran datang bertubi-tubi

Aku melihat bagaimana kaki palsu diukur, ditandai, dan akhirnya dipotong sesuai ukuran dari luar jendela ruangan. Dan kini aku benar mengerti, bahwa sungguh sempurnanya Allah menciptakan tubuh manusia, dengan semua organ-organnya yang dapat berfungsi dengan sangat baik, yang ukurannya seimbang, proporsional, yang simetris, tidak tinggi sebelah, tidak pendek sebelah, tidak kurang sedikit apa pun. Aku melihat kaki palsu itu dihaluskan, ditempelkan busa agar yang memakai dapat nyaman dan tidak merasakan sakit. Dan Allah sudah memasangkannya dengan sangat baik di setiap tubuh makhluk-Nya, dengan lem yang paling baik, dengan rasa nyaman yang sama sekali tidak membuat makluk-makhluknya sakit. Kaki palsu hanyalah buatan tangan manusia, benda mati yang dapat rusak dan tidak sesempurna ciptaan Allah meski kaki dan tangan palsu itu diberi garansi seumur hidup oleh yayasan yang membuatkannya. Yang tidak ada tulang, darah, urat, sel-sel, dan berbagai hal lainnya sebagai satu kesatuan penggerak sebuah organ tubuh. Tidak seindah penciptaan Allah, meski manusia berusaha membuatnya semirip dan serapih mungkin.

Saat itu aku harus menyaksikan bagaimana peserta lainnya menunggu, melihat bagaimana kaki dan tangannya dibuat, dirombak, diotak-atik, dan berbagai proses lainnya agar tampak sempurna. Namun lagi-lagi aku belajar bahwa segala ciptaan manusia tidak ada yang bisa sesempurna ciptaan Allah. Kami, manusia hanya berusaha menolong sesama. Membuatkan kaki dan tangan palsu bagi yang tidak sempurna, agar setidaknya mereka terlihat sama dengan yang sempurna.

Sudah pasti ada Allah, Tuhan semesta alam yang Maha Segalanya dan sudah seharusnya pula kita yakin bahwa Ia ada, dengan segala bukti yang terhampar luas di bumi-Nya ini, termasuk pada diri kita sendiri.

Ketika diameter kaki palsu tidak seukuran dengan tubuh sang pemilik, ketika pengencangnya masih kurang kencang, dan ketika semua proses itu terjadi telah banyak hal yang aku saksikan dengan kedua mataku ini. Melihat peserta lain yang tetap memaksakan untuk memakai kaki palsu meski aku lihat ukurannya sedikit lebih panjang dari kaki aslinya. Ia berusaha berdiri dan menyamai ketinggian, parau rasanya, bila ia saja sangat menginginkan dua kaki utuh sedangkan aku? Lupa bersyukur. Dan tibalah saat Pak Alit mencoba kaki palsunya, dengan suara yang kecil namun terdengar olehku Pak Alit berucap,

“Ngga bisa..” Beserta makna ekspresi wajahnya yang tidak aku pahami, antara sakit, tidak nyaman, atau lain halnya.

Aku kira Pak Alit akan langsung bisa menyesuaikan diri dengan kaki palsunya, berjalan seperti orang biasa karena aku tahu bahwa dengan tongkatnya, ia sudah bisa melewati berbagai macam kondisi jalan. Namun yang kulihat saat itu, langsung menepis semua persepsiku. Aku lihat Pak Alit sama sekali tidak merasa nyaman dengan dipasangkan kaki palsu, aku lihat Pak Alit merasa sakit karena kaki palsunya keras dan tidak pas, aku tahu kaki palsu Pak Alit masih lebih besar daripada diameter pangkalnya, aku lihat Pak Alit tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Padahal aku tahu, kalau tanpa tongkat pun Pak Alit bisa berdiri dengan satu kaki, bahkan ketika ia sholat. Kini Pak Alit harus belajar berjalan seperti seorang bayi lagi. Pak Alit harus mengulangi lagi masa-masa itu. Aku melihat bagaimana harapan Pak Alit yang ingin sekali bisa cepat menyesuaikan diri menggunakan kaki palsu. Aku merasakan sekali bagaimana ia ingin Bu Alit melihat kedua kakinya utuh menopang tubuh Pak Alit. Hari itu aku sungguh-sungguh ditampar, aku sungguh-sungguh diajarkan untuk tidak lupa caranya bersyukur.

Merekalah yang memiliki ketidak sempurnaan fisik hingga beruntut pada kehidupan pribadi. Ada yang ditinggalkan istri ketika tahu kakinya diamputasi dan berbagai kisah pilu lain yang tak sempat terungkap namun berakhir dengan pelajaran berharga.

Pak, jujur Aya sedih kalau tahu kaki palsu ini hanya akan memperberat gerak langkah Bapak. Aya ngga memaksakan Bapak untuk menggunakan kaki palsu dan yang terpenting, kita sebagai manusia sudah berupaya untuk saling menolong ya Pak. Aya malah menghargai kalau memang Bapak kembali pakai tongkat karena sudah cukup bagi Aya melihat kesulitan, kesakitan, ketidak nyamanan yang Bapak rasa ketika coba menggunakan kaki palsu. Kita sama-sama bersyukur ya Pak dengan apa adanya diri ini.

Selebihnya aku telah belajar banyak, melihat, menyaksikan, mengetahui, mendengar kisah-kisah heroik manusia-manusia ciptaan Allah yang paling sempurna hatinya. Mungkin setelah ini aku akan lebih banyak mengingat apa yang ingin aku tuliskan karena semua ini masih belum cukup mengungkapkan apa yang kemarin terjadi.

Bahwa seharusnya tubuh-tubuh ini dapat dibawa ke sebaik-baiknya tempat, dirawat, dimanfaatkan dengan baik.

Aya manusia biasa dan bahkan mahasiswi biasa yang sama sekali ngga istimewa. Aya hanya terus belajar dan mencari ladang amal. Jujur, Aya nga tau bagaimana bisa membantu Pak Alit kemarin ini. Tapi, Aya yakin kalau semua itu akan datang dengan berbagai pertolongan dari Allah. Niat itu berasal dari Aya dan segala bentuk pertolongan itu datang dari Allah. Semua pertolongan itu untuk Pak Alit dan Aya hanya sebagai perantaranya saja. Aya ingin lebih banyak membantu sesama 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s