Akhwat 42

Beberapa waktu yang lalu aku udah janji sama diri aku sendiri buat cerita tentang suatu hal yang cukup membekas di semester 5 kemarin. Cerita tentang Adik-Adik mentee AT-42.

“Terimakasih telah menjadi Adik-Adik yang manis untuk Kak Aya selama satu semester kemarin ya J”

Perlukah aku sebut nama mereka satu persatu?

Hmmm rasanya ngga ya, karena video di bawah ini akan bisa menunjukan siapa Adik-Adik manis yang selama satu semester kemarin selalu melingkar bersama denganku.


[Mentoring Goes Green By: AT-42]

Oia, sebelumnya aku ngga tau apakah hal ini secret atau boleh dipublikasikan? Tapi yang jelas, aku hanya ingin berbagi kisah tentang kebersamaan kami yang telah membuatku bersyukur bisa sekejap menjadi Kakak mereka.

Satu hal yang selalu aku harapkan ketika menjadi seorang Kakak di dalam sebuah lingkaran yaitu,

“Saat aku berada di sebuah lingkaran lain untuk menjadi seorang penuntut ilmu, aku pasti akan selalu antusias dan semangat menyimak ilmu-ilmu yang diberikan oleh Teteh mr–ku. Begitu pun saat ini, aku ingin Adik-Adik bisa memiliki sifat yang sama, karena ‘bukankah mentee itu seperti apa yang dilakukan oleh mentornya?’”

Aku ingin mereka bisa semangat bila berada di tengah-tengah lingkaran ini. Tidak hanya datang, duduk, diam, dan pulang. Aku ingin mereka bisa aktif bertanya, menambahkan sesuatu, bercerita, menyanggah pendapat, atau apa pun itu. Sehingga jendela ilmu bisa terbuka dan semakin luas pula jangkauan untuk menjelajah ilmu-ilmu lainnya. Ya, mungkin kata-katanya aneh atau kurang pas? Tapi nikmati aja ya J

Berbeda sekali dengan Adik-Adik satu semester sebelumnya yang lebih pasif. Mungkin karena saat itu pun aku masih dalam tahap menyesuaikan diri, masa peralihan dari seorang astor. Lalu hal apa lagi yang ingin aku bagikan?

Tentu karena mereka itu aktif bertanya, menyanggah, curhat, dan lain sebagainya sehingga lingkaran kami Alhamdulillah selalu ramai dan ada saja hal baru yang saat itu kami ketahui. Aku banyak belajar dari mereka semua, sungguh!

Adik yang pemberani, di mana ketika pertama kali kami bertemu, langsung ada salah seorang dari mereka yang mengajukan diri untuk menjadi seoorang koordinator. MasyaAllah. Aku jadi teringat ketika dulu aku ospek/PDKT (Pengenalan Dunia Kampus Telekomunikasi) di tahun 2012. Saat itu, aku menjadi orang pertama yang ketika ditanya,

“Siapa di sini yang mau menjadi ketua kelompok?” Dan akulah orang yang mengacungkan tangan serta menjawab, “Aku Teh!”

Alhamdulillah-nya saat itu, semua anggota kelompokku yang merupakan cewek-cewek cantik dari berbagai belahan nusantara benar-benar menerima keputusanku ini untuk mengetuai mereka. Nanti aku ceritain deh ya gimana masa-masa PDKT dulu, in syaa Allah.

Lanjut..

Benar saja, sampai akhir masa MPAI 2014 kemarin, ia menjadi koordinator yang luar biasa! Selain itu, aku juga belajar tentang Islam dari daerah asal Adik-Adikku. Maksudnya? Karena beberapa dari kami memiliki daerah asal yang berbeda, aku pun ikut belajar tentang bagaimana perkembangan Islam di Medan hingga Jawa. Keren kan! Ini nih, makanya diperlukan sekali Adik yang aktif. Kalau Adiknya ngga aktif kan mana tau tentang perkembangan Islam di daerah-daerah lainnya. Bersyukurnya lagi, ada seorang ‘mentor 2’ yang bisa berjalan beriringan denganku untuk menjadi Kakak di MPAI ini. Aku ringkas aja ya, hal-hal apa yang telah aku dapat dari mereka.

Ada salah seorang Adik yang memiliki background, yang mungkin ngga jauh berbeda dengan aku. Namun dia sebenarnya sudah pernah ikut mentoring saat di SMA. Berbeda dengan aku yang memang benar-benar baru tahu mentoring itu ada saat kuliah. Adik yang multitalent, Adik yang periang, Adik yang pemberani, Adik yang paling aktif bertanya, bercerita, dan speak up banget deh pokoknya. Adik yang selalu hangat, pokoknya Adik yang membuat aku berkaca bahwa ‘siapa saja bisa menjadi seorang apa saja’.

Namun memang mereka semua itu Adik-Adik yang manis. Adik yang penyayang, Adik yang cuek tapi menyimak, Adik yang perhatian, Adik yang sama seperti Adik lainnya, membutuhkan perhatian dan berbagai pernak-pernik anak remaja wanita lainnya. Maklum, mereka kan masih semester 1 di kampus ini.

Karena kesukaanku adalah hal yang berbau tulis menulis, memang kemarin cukup banyak latihan menulisnya ya. Dari membuat surat untuk Ibu yang tidak aku kira hingga salah seorang dari mereka yang paling tomboy sekali pun meneteskan air mata, saat membacanya. Hal lain yang menjadi hikmah bersama AT-24 yaitu jangan memandang mereka seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, apalagi dengan sikap kekanak-kanakan mereka. Bisa jadi, mereka lebih tahu dari apa yang belum kamu ketahui sebelumnya, banyak pelajaran yang bisa diambil dari bercerita bersama dengan mereka, dan semua wanita itu sama, memainkan peran dengan hati. Pokoknya aku ikutan haru, aku ngga nyangka cita-citanya untuk membahagiakan seorang Ibu bisa membuat air matanya jatuh dan menetes deras. Akhirnya pun menjadi sebuah pelajaran bagi kita semua untuk sejenak menunduk dan memikirkan Ibu. Lalu ketika kami semua menulis targetan hidup, waktu yang cukup lama ternyata belum juga cukup, dan mereka malah keasikan menulis, lalu bilang,

“Bentar lagi Kak, bentar lagi, belum selesai nih nulisnya…”

Saat di tengah-tengah mereka, aku menjadi seorang akhwat yang malu-malu karena memang ini pertama kalinya aku pun belajar speak up.

“Ayo, ada yang mau bertanya atau menambahkan?”

Dan mereka pun semangat, lalu aku mengarahkan jawaban-jawaban serta cerita kami agar tetap pada jalurnya, meski akhirnya lebih banyak yang di luar context.

Ada yang berbeda dengan mentoring kali ini, yaitu ketika aku tidak menjadi Kakak yang galak. Ya, aku memang merasa kalau mentoring kemarin cukup longgar dalam aspek kedisiplinannya. Masih ada atau banyak yang datang terlambat tapi, aku ngga pernah gimana-gimana karena aku tahu bahwa ketika seseorang berniat untuk melakukan suatu kebaikan, pasti ada saja tantangan yang harus dihadapinya terlebih dahulu. Mereka selalu bilang atau izin untuk datang terlambat karena beberapa hal tapi akhirnya mereka benar-benar datang kok. Makanya aku hanya perlu lebih sabar dan menunggu di tengah mentoring yang sudah berjalan.

Ketika ada yang tidak memakai kerudung karena baru saja sampai di kampus, ia bergegas izin untuk pulang ke asrama. Tapi aku memilih pindah ke mushola agar bisa langsung memakai mukena di sana saja. Masih ada yang main hp, mengobrol, dan lain-lain di tengah mentoring. Tapi aku ngga memaksa mereka semua untuk selalu terfokus kepadaku karena aku tahu kalau setiap orang punya daya fokusnya masing-masing dan punya daya serap serta kemampuan yang berbeda-beda. Mungkin dia bukan tipe auditori yang bisa hanya dengan mendengarkan bacaan materi dariku, sama halnya ketika kami belajar ilmu tadjwid, tidak bisa hanya diawang-awang hukum atau bentuk hurufnya, aku coba untuk membuat coretan di kertas untuk mereka yang memiliki kemampuan visual. Aku setelkan video karena memang mereka bisa langsung fokus ketika ada materi berupa video, serta berbagai hal lainnya yang coba aku praktikan untuk AT-42 kemarin.

Bagian sedihnya karena salah seorang Adikku ada yang sakit sehingga tidak bisa ikut untuk 1 kali pertemuan. Padahal aku ngga boleh begitu ya, masih berharap agar dia bisa datang..

Kadang aku pun suka bercanda hingga bermain peran, ya itulah yang membuat kebersamaan kami bisa semakin hangat.

Senang bisa menjadi Kakak yang humoris hingga membuat Adik-Adiknya tertawa di tengah-tengah mentoring kemarin, membuat suasana lebih santai, dan itu tandanya aku sudah bisa menyampaikan materi lagi. Itulah kegunaan ice breaking, ketika mereka sudah tersenyum saja, itu tandanya otak mereka sudah siap menerima materi. Alpha zone.

Terimakasih juga telah menjadi Adik yang mandiri di saat closing kemarin ya, karena Kak Aya ngga bisa hadir. Padahal jujur, Kak Aya ingin menjadi Kakak yang paling bersemangat memberi kalian senyuman bangga karena telah berhasil menjadi kelompok terbaik dalam shining team ‘Mentoring Goes Green’. Selamat ya, Adik-Adik manisnya Kak Aya..

Adik yang mau menerima kekurangan Kakaknya ini, yang masih banyak tidak tahunya ini, yang masih banyak salahnya ini, yang masih banyak malunya ini, yang masih banyak ragunya ini.

Selalu semangat mentoring ya, seperti yang kalian inginkan untuk bisa melingkar lagi. Kak Aya ingin kalian menjadi Adik yang hebat di kampus ini, meski Kak Aya pun bukan siapa-siapa. Mudah-mudahan Kak Aya siap mengenalkan kalian ke Kakak-Kakak hebat lainnya, meski sebenarnya takut cemburu kalau kalian beralih sayang ke Kakak yang lain itu J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s