Asal Muasal Pelita

Entah amal apa yang menyeretku hingga bisa berada di tengah-tengah barisan ini? Barisan yang rapat lagi lurus, barisan para tentara Allah yang berjuang untuk menegakan kalimatullah di atas bumi-Nya. In syaa Allah..

Mungkin ini berawal dari mimpi ingin memiliki banyak sahabat shalihah.

Ya, hanyalah angan-angan cetek dari salah seorang anak SMA di sore hari ketika melihat sekumpulan wanita berkedurung sedang duduk berjajar makan bakso hingga terceletuk,

“Ya Allah, bahagianya kalau bisa punya banyak sahabat yang shalihah.”

Dan tringgg, Allah Maha Pengabul doa lantas saat ini aku memiliki keluarga akhwat yang in syaa Allah aku cintai karena Allah. Aamiin.

Aku ingin sekali menjadi anak pondok.

Addict dengan salah satu novel hingga hafal seisi-isinya (baca: Negeri 5 Menara). Aku ingin merasakan jadi seorang santriwati yang bisa belajar ilmu agama di pondok pesantren. Pasti seru banget, apalagi dengan beragam kisah yang tidak biasa di sana.

Ini masih menjadi mimpi yang ingin aku wujudkan setelah lulus kuliah. Nyantri, pindah-pindah pondok pesantren untuk mendalami ilmu agama. In syaa Allah, aamiin.

Hingga bercita-cita ingin membangun pondok pesantren di Amerika, tinggal/menetap/hidup di tengah-tengah lingkungan pesatren, dan berjodoh dengan penghuni pondok pesantren.

Alhamdulillah, saat di kampus ini aku masuk di salah satu pesantren bernama BM (meski bukan pesantren sebenarnya). Tapi dari sini, aku belajar untuk berhijrah dari masa jahiliyah (bodoh) ku ke masa terangku. BM ini boleh dibilang merupakan pondok pesantren akselerasi untuk para santri dan santriwatinya.

Cita-cita paling tinggi, cita-cita menjadi seorang ustadzah.

Kalau di fikir-fikir, diri yang banyak salahnya, banyak dosanya, banyak aibnya ini apa pantas menjadi seorang ustadzah? Dilihat dari kaca mata manusia jawabannya udah pasti ngga. Tapi kalau Allah telah berkehendak? Semua yang mustahil bisa menjadi nyata.

Aku pun melanjutkan perjalan sebagai seorang musafir di jalan panjang ini untuk tahun kedua. In syaa Allah, di tahun kedua ini pun menjadi tahun penuh tantangan dan pengorbanan demi membuktikan apa yang telah aku azzamkan (belajar untuk sungguh-sungguh atas tekadku). Dan Allah selalu bisa memberiku kesempatan untuk mewujudkan cita-cita itu. Aku belajar banyak hal dari mereka yang lebih paham, lebih berilmu dariku. Mereka yang sudah lebih dulu terjun ke dalam derasnya ombak, menerjang bebatuan di sungai kehidupan ini. Aku belajar berbicara di hadapan banyak orang tentang hal-hal yang menyangkut paut dakwah kampus tercinta (public speaking). Tentunya aku pun dibina dari lingkaran kecil yang telah banyak melahirkan sosok-sosok besar di luar sana. Serta yang kini paling aku tunggu yaitu bisa menjadi imam di dalam sebuah jama’ah akhwat yang besar, para akhwat shalihah..

Aku hanya manusia biasa yang tentu banyak khilafnya, banyak lupanya. Aku bersyukur dengan apa yang saat ini aku miliki namun aku memang tidak tahu akan apa yang terjadi esok hari? Semoga Allah mengistiqomahkanku di jalan ini :’) Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s