Air Mata Ukhuwah

Maghrib, 28 Maret 2015.
Aku duduk di atas lantai bercorak kayu sambil menunggu sholat maghrib dimulai oleh sang imam. MSU.

“Tapi rasanya kok kenal ya sama Teteh yang berada 1 meter di sebelah kiriku ini?” Gumamku dalam hati.

Hmmm penasaran..
“Perlu disapa ngga ya untuk memastikan?” Bisikku sendiri setelah bertanya ke teman lain, apakah dia mengenal Teteh itu?

“Teh, ini Teh Riaaa?” Aku dekati dan sentuh tangannya yang sudah terselimut oleh mukena.

MasyaAllah..
Haru..
Tiba-tiba air mataku mengucur dengan derasnya setelah duduk berhadap-hadapan dengan Teh Ria.
Ini benar Teh Ria.

Ada rindu yang tetiba meronta-ronta memaksa ingin keluar..

“Kayanya wudhu Aya batal ini Teh..” Semua rasa bercampur aduk jadi satu setelah bisa melihat wajah Teh Ria kembali.

Dan beberapa saat bercengkrama..

“Tadi juga Kakak ngeliat kamu pas wudhu tapi takut salah orang karena penampilannya beda.
Alhamdulillah ya, sekarang udah seperti ini, dulu mah pas pertama kali ketemu masih pakai kerudung pedek :)” Teh Ria berbicara sambil memeragakan aku yang suka melipat kerudung ke bahu saat dulu.

“Ia Teh alhamdulillah :’)” Balasku sambil masih terus memandangi wajahnya dan mengucurkan air mata rindu.

“Sekarang aktif di mana?” Tanya Teh Ria.

“Di BM Teh..”

Dan pembicaraan berlanjut.

Siapa yang tahu kalau selama ini, aku suka membayangkan wajah Teteh hingga teman yang dulu pernah satu perjuangan denganku. Membisikan namanya kepada Allah..

Teh Ria, salah satu Teteh yang dulu mungkin paling dekat denganku di SONIC 2012.
Hingga dalam kesendirianku, sering aku melihat-lihat lagi video kenangan kita, dan bertanya-tanya sendiri tentang kabarnya dalam hati. Sering sekali..

Kalau ditanya tentang SONIC 2012, ahhh ada banyak harapan saat itu. Tapi ternyata Allah merencanakan hal lain yang jauh lebih indah 🙂

Ya Allah, beginikah ukhuwah? Ketika air mata hanya bisa mewakili rindu serta doa yang menambah keeratan tali persaudaraan ini.

“Teh, Aya pun baru sadar, bahwa Aya telah melewati proses panjang di kampus putih-biru.
Mungkin sejak pertama kali melihat spanduk MPAI saat PDKT 2012 lalu.
Terimakasih banyak Teh, Aya sayang Teteh karena Allah..” Aku yang masih terus menangis ketika mengingat perjumpaan di maghrib hari itu :’)

Kadang sedih..
Ketika ketemu teman lama namun pada saat berpapasan ngga saling sapa atau hal kecilnya, tersenyum.
Di situ aku suka bertanya, apa aku harus berkenalan dengannya lagi dari awal/nol? Seperti halnya orang yang memang belum pernah kenal sama sekali sebelumnya..

Kelak Allah akan mengumpulkan kita kembali di dalam syurga-Nya. Bidadari-bidadari syurga.
Aamiin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s