BONGKAR! Fase Ke-5 Dalam Hidupku

Aku akui bahwa setiap orang yang telah tumbuh menjadi dewasa, pasti pernah melalui fase kehidupan yang satu ini. Fase kehidupan yang dimulai dari ketika kita masih berada di dalam kandungan, kemudian lahir menjadi seseosok bayi mungil yang putih bersih tanpa dosa, fase kanak-kanak yang penuh dengan kenakalan, fase remaja/ABG yang banyak ingin tahunya tentang dunia, fase ALAY, fase dewasa, dan fase lanjut usia hingga fase penutup dari kehidupan yang sementara ini : fase meninggal dunia. Di sana tadi, sudah ada satu fase hidup yang ingin aku ceritakan pada tulisan kali ini. Ia benar sekali! Fase ALAY, fase ke-5 yang orang karang sendiri..

Hmmm sayangnya, aku sudah menghapus sebagian besar dari peninggalan sejarah ke-ALAY-anku itu. Habis, mengenangnya itu antara malu tapi diikhlaskan..

Dan saat ini aku coba bertanya lagi untuk memantapkan diri, apakah sebenarnya aku sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa? Atau malah masih menapaki fase ALAY dari kehidupanku itu? Ah entahlah, sepertinya ALAY bukan hanya fase dalam hidup seseorang, melainkan juga krisis kepribadian yang terkadang suka datang secara tidak sengaja di fase hidup lainnya. Maaf ya kawan..

Jujur nih, sebenernya menurutku ALAY itu perlu loh! Buat apa coba? Buat kita berkaca bahwa kita ini masih manusia normal, bukan manusia jaim apalagi manusia sempurna.

Di dunia ini ngga ada manusia yang sempurna selain Rasulullah SAW, yang memiliki akhlak mulia, layaknya Al-Qur’an berjalan.

ALAY itu perlu kawan buat kita-kita! Untuk apa lagi? Untuk bermuhasabah, mengintrospeksi diri bahwa diri ini banyak dosanya, bahwa diri ini pernah berlumur maksiat, mendekati atau berbuat zina. Diri yang tidak lebih baik dari orang lain. Ngaca dong kawan, ngaca! Eh, maksudnya aku yang ngaca.. Heheh

Ngga tau kenapa lagi iseng buka video zaman SMA dan geli sendiri ngeliatnya. Lagi-lagi aku harus bilang, antara malu dengan ikhlas itu kok sekatnya jadi tipis banget ya?

Di satu sisi, aku malu pernah melewati fase ALAY itu tapi di sisi lain, aku ikhlas menjadikan semua itu sebagai pelajaran berharga untuk bisa menjadi manusia yang lebih bernilai lagi di masa mendatang. Hueeehhh kece nih Teteh bahasanya!

Awalnya, aku mau kesal apalagi setelah timbul pertanyaan,

“Kenapa ngga dari dulu aja sih insyafnya? Dapet hidayahnya.. Hijrahnya.. Kenapa jadi anak baik-baiknya baru pas kuliah?”

Eh eh eh, jangan salah faham juga! Bukan berarti dulunya aku ini anak yang nakal-nakal banget loh ya. Cuma ALAY aja kok 😀

Skip >>

Ya udah deh, ini semua cukup menjadi pelajaran berharga untuk kita semua aja ya. Terutama untuk aku sendiri. Nah, mau tau gimana ALAY-nya aku dulu?

Waktu aku ALAY..

SMP! Ya SMP, kayanya aku sudah mulai menjajaki fase ALAY dalam hidup ini. Tepatnya kapan fase itu benar-benar aku lalui, aku pun lupa?! Tapi yang aku ingat, dulu itu aku maniak untuk berfoto ria sama sobat-sobat. Fotonya ngga aneh-aneh kok, paling cuma meletin lidah ke kanan atau ke kiri, pose dua jari alias peace, bibir yang dimanyun-manyunin, atau bibir yang dilemesin secara berlawanan arah (yang satu ke atas, yang satu lagi ke bawah), hahahaha dan berbagai ekspresi wajah lainnya yang tiba-tiba bisa melototin mata, ngempotin pipi, niup satu jari, dan lain sebagainya. Duh bener-bener deh ni, jadi malu sendiri..

Terus harus gimana lagi atuh? Da udah terjadi, ikhlasin aja.. *tearing, malu pisan..

Kalau boleh bercerita, Alhamdulillah, masa SMP-ku itu termasuk yang bahagia banget. Karena apa? Karena aku punya dua orang malaikat di sisi kiri dan kananku saat itu. Mereka adalah Della dan Dini. Meski sekarang entah bagaimana lagi posisiku di hati mereka?

Ah, aku jadi tetiba rindu dengan kalian berdua sobat! Alhamdulillah karena kita memiliki akhir cerita persahabatan yang indah sehingga aku merekam dan mengarsipkan semua itu di dalam brangkas terindah dalam hatiku. Meski aku ngga tau akan apa yang bisa terjadi pada kita bertiga dikehidupan yang akan datang.. Semoga kita semua baik-baik aja ya.. Aamiin..

Aku jadi ingat pesan Ayahnya Lina kepada Lina,

“Kamu jangan mengidolakan orang yang masih hidup karena kita ngga akan pernah tau bagaimana akhir kehidupan mereka? Apakah berakhir dalam kondisi/keadaan baik atau buruk?”

Aku ngga mengidolakan siapa-siapa kok sampai saat ini, tidak mengidolakan sahabat lamaku atau pula teman sekampusku saat ini. Aku hanya mendokan kita semua, semoga bisa terus dalam penjagaan Allah, dalam keadaan/kondisi baik hingga akhir hayat nanti. Aamiin..

Oke, lanjut ke cerita ALAY-nya aku ya.. Pada penasaran kan?!

Kadang, ketika mengisi mentoring pun, aku masih suka menceritakan masa-masa jahiliyahku ke Adik-Adik mentee. Bahwa aku tidak terlahir dengan kondisi yang langsung seperti ini, yang berusaha menutup aurat dengan sempurna, atau berusaha untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari hari ke hari. Aku pun sama seperti mereka, pernah terjerumus di lubang dosa dan harus merangkak dalam berproses menuju kebaikan ini.

Aku bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga Islami, hanya Ibuku yang mengajarkanku untuk lebih mengenal Allah. Aku hanya senang mendengar nasihat mentor MPAI kala itu, mencoba mempraktikannya, dan aku pun terbawa arus yang menenggelamkanku ke dalam lubang cahaya pada saat ini.

Aku pernah pacaran kok, aku pernah merasakan masa itu ketika hawa nafsu terumbar dan lupa mengingat dosa. Aku pernah mencontek kok, meski sebenarnya aku amat sangat membenci perilaku tersebut saat itu. Aku pernah berantem dengan teman bahkan guruku sendiri karena bagitu kerasnya kepala ini. Aku pernah pergi tanpa sepengetahuan orangtua atau kabur ketika les dengan guru di sekolah. Ketika di SD pun, aku termasuk anak yang belagu, sok apalagi saat SMA yang merasa punya nyali dengan tidak menggunakan kerudung, padahal itu kewajiban. Astaghfirullah..

Dan rasanya, saat ini bukan penyesalan yang seharusnya aku lampiaskan karena lagi-lagi pertanyaan ini mengusik hatiku,

“Mengapa aku baru menyadari semua kenakalan itu?”

Tapi aku bersyukur karena saat ini masih bisa belajar untuk memperbaiki semua kesalahan-kesalahan itu. Ya, se-ALAY-nya aku, aku masih amat sangat menyayangi kedua orangtuaku, keluargaku, dan menyayangi mereka semua yang telah mendidikku.

Lanjut ke masa-masa SMA-ku ya. Kali ini, akunya yang memang penurut atau terlalu bodoh? Aku mau aja disuruh lepas kerudung karena katanya,

“Kalau SMA mah dilepas aja kerudungnya, kalau tinggal di Bandung mah ngga apa-apa ngga pakai kerudung..”

Memang, aku ini sebenarnya anak yang paling penurut sejak kecil. Tapi ngga gini-gini juga kali nurutnya.. Dasar Ojan-Ojan!

Akhirnya aku pun ber-SMA tanpa menggunakan kerudung dan parahnya lagi, aku pakai rok mini. Eh maksudnya rok pendek tapi ngga mini. Sadar dirilah, aku bukan wanita populer di sekolah, hanya wanita cupu, yang roknya di bawah lutut 5 cm (ngikutin peraturan atau roknya digunting sehabis selesai upacara sama Pak Ade), mana pakai sabuk sampai atas perut, terus pinggangnya lebar, bajunya kegedean (sok-sok an, ngakunya akan tambah gendut, eh malah tambah kurus, jadi aja bajunya gombrang), rambutnya panjang kaya Nenek lampir, terus ngembang lagi kaya adonan yang dikasih baking powder, suka acak-acakan, berantakan, lusuh, pakai kaos kaki sebetis, mana suka melorot juga akibat sering ditarik-tarik ke atas (sadar betisnya gede), ah pokoknya maafkan ke-ALAY-an ini, kekhilafan ini, kebodohan ini :”

Apa aku harus bikin ‘tag/kategori’ khusus untuk ALAY-nya aku ini ya? Aku tau ini lucu, ini seru banget buat diceritain atau dibaca tapi jujur sebenernya malu banget nulis ini apalagi sampai diposting di blog sendiri. Mending kalau dikasih nama samara, nah ini terang-terangan. Tapi lagi-lagi aku harus mengakuinya, ini semua adalah fase dalam hidup aku.

Kini aku yang telah berusia 20 tahun menjelang 21 tahun tepat 6 hari lagi.

Teh Pepew aja ngga malu kok bercerita tentang perubahan dirinya, terus kenapa aku harus malu? Toh sekarang, diri ini pun masih amat sangat jauh dari kata lebih baik dari orang lain, diri ini masih bejibun dosa-dosanya, ah pokoknya aku belum se-sholehah Teteh-Teteh geulis di kampus, Teteh-Teteh kalem yang memang dalam ilmu agamanya. Da abdi mah naon atuh? Hanya makhluk bau yang tak berwujud.. #hitut atuh?

Mungkin inilah yang disebut dosa, disebut aib, disebut kekurangan, sehingga malu rasanya untuk mengakui, apalagi sampai diketahui oleh orang lain.

Sebenernya, aku cerita ini hanya untuk memberitahu bahwa aku harus sadar kalau aku tuh pernah ALAY, aku ngga boleh melupakan sejarah apalagi sampai menguburnya dalam-dalam, semua itu kan penuh pelajaran, penuh hikmah bukan? Agar aku lebih bersyukur dan terus memantaskan diri, memperbaiki diri dihadapan-Nya. Aamiin..

Aaaaa, kangen SMA, pingin main ke SMA :”

Eh, bukan untuk mengingat romantisme saat SMA loh ya! Untuk silaturahim ke guru-guru dan melihat kabar Adik-Adik di sana. Siapa tau ada tambang amal yang bisa digali? Heheh..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s