Menyoroti Libur Panjang Anak Sekolah

Mungkin, makna dari libur satu bulan bagi anak sekolah adalah kebebasan (kata dasar: bebas). Pertama kali mengetahui kabar bahwa selama itu mereka bisa menghabiskan libur tanpa satu pun agenda Ramadhan, komentarnya ‘kok bisa’? Belum tahu atau sejujurnya belum mencari tahu, sebenarnya ini keputusan siapa dan atas dasar apa mereka diliburkan selama itu? Satu bulan, yang bagiku terlalu lama.

Dalam peristiwa ini, ada beberapa poin yang cukup membuat perhatian besar, di antaranya:

  1. Hilangnya program pesantren kilat

Pesantren kilat bukan sekedar budaya yang ada di bulan Ramadhan. Budaya atau sesuatu yang telah menjadi kebiasaan untuk diadakan, biasa dilaksanakan, biasa. Melainkan pesantren kilat merupakan sarana bagi para pendidik untuk menanamkan nilai-nilai Islam kedalam diri santrinya.

Teringat bagaimana dulu aku mengikuti pesantren kilat saat SMP. Saat itu aku belajar dari bermain tiup balon mengenai hal-hal apa saja yang bisa membatalkan puasa. Atau saat SMA, ketika aku belajar bagaimana mengurus jenazah sampai-sampai aku sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi jenazahnya. Kehadiran ustad-ustad kondang pun memberikan kesan dan pesan tersendiri bahwa Islam itu asik.

Sayang, terdapat penyesalan mengapa tahun ini anak sekolah diliburkan selama sebulan serta tidak adanya program pesantren kilat yang diadakan di sekolah mereka. Libur satu bulan tahun ini berarti sekolah yang tanpa aktivitas sama sekali selama satu bulan lamanya.

Ingin bertanya, apakah sudah merasa cukup dengan mata pelajaran agama dalam kelas yang hanya dilaksanakan beberapa jam per minggu? Padahal anak-anak zaman sekarang harus lebih kuat, memang sejak dini mereka harus dibangunkan fondasi yang kokoh agar tidak terjerumus atau terseret ke dalam banyaknya penyimpangan sosial yang saat ini terjadi. Anak membunuh Ibunya, anak menonton film porno, anak memperkosa temannya, anak terjerat narkoba, dll. Ah, jangan-jangan orangtua mereka sendiri pun membiarkan anaknya berbohong atau sekedar merokok. Padahal hal-hal kecil atau yang dianggap sepele itulah yang akan mendatangkan bencana lebih besar. Seharusnya orangtua melakukan tindakan preventif seperti contohnya mengikut sertakan anaknya ke dalam program pesantren kilat Ramadhan ini.

  1. Latar belakang orangtua yang berbeda

Syukur alhamdulillah bila seorang anak dididik oleh orangtua yang mengerti pentingnya ilmu agama. Orangtua tersebut kemungkinan besar akan mengarahkan anaknya bertingkah laku sesuai dengan ajaran dalam Islam. Maksudnya orangtua yang perhatian pada anaknya karena bisa jadi ada orangtua yang mengerti agama tetapi membiarkan anaknya mencari hidayah itu sendiri. Parahnya, bagaimana kalau orangtua si anak tidak mengerti bagaimana cara membangun fondasi agama dalam diri anaknya? Sudah tidak tahu, tidak memperdulikan pula. Ini sih kebangetan.

Jadinya apa yang dilakukan sang anak saat liburan panjaaannnggg ini? Standardnya yaitu menonton tv di rumah? Setuju bukan?!

Tv yang dianggap fasilitas paling ramah, ramah biaya (murah), ramah tenaga, ramah waktu, dan memiliki banyak jenis keramahan lainnya. Hmmm, padahal asal tau saja, banyak penyisipan ideologi-ideologi sesat di dalamnya. Nilai-nilai yang membawa kesesatan dan kali saja bisa menjadikan penontonnya ikut tersesat. Contoh kecilnya yaitu lagu/back song iklan yang hanya beberapa detik hingga beberapa menit. Sudah tau the power of song? Lagu itu akan menstimulus otak hingga mengubah perasaan atau apalah istilah lainnya di dunia psikologi, intinya bisa mengubah kondisi seseorang. Sekarang ini banyak anak alay, ya itu salah satunya karena selalu mengulang-ulang lagu sendu atau lagu cengeng. Pokoknya kalau berbicara tentang lagu, seseorang bisa langsung terhipnotis bahkan seseorang bisa langsung hafal liriknya padahal baru mendengarkannya beberapa kali saja. Hal ini yang kadang suka aku kritiki,

“Kalau ada lirik lagu yang terputus pasti seseorang bisa langsung menyambungnya. Tapi apakah bila ayat suci Al-Qur’an yang terpotong, seseorang bisa juga melanjutkannya?”

Inalillahi..

Di sini, peran orangtua amat sangat berarti. Mereka seharusnya bisa langsung terjun untuk mengawasi, mendidik, hingga mengevaluasi anaknya seperti seorang guru di sekolah. Disayangkan bila selama libur panjang, tidak ada aktivitas bermanfaat yang dilakukan sang anak. Sang anak hanya dibiarkan bermain, bermain, bermain, dan bermain. Bisa jadi hal itu yang menjadikan otak seorang anak menjadi tumpul karena tidak pernah diasah lagi untuk berfikir. Hati-hati pula untuk memilih lingkungan bergaul, karena salah jalan bisa jadi fatal.

Ini semua bukan komentator pedas seorang pengamat bola terhadap sebuah pertandingan. Tidak ada pula yang menang atau yang kalah. Yang dibutuhkan saat ini adalah ide-ide cerdas/cemerlang dalam menghadapi libur panjang anak sekolah yang telah terlanjur terjadi. Jadi apa yang harus dilakukan orangtua? Atau apa yang harus dilakukan anak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s