Anak Kampung

Hari Jumat kemarin (24/07/2015) aku iseng nulis target silaturahim ke rumah salah satu saudara di daerah Johar/Lamaran, Karawang. Alhamdulillahnya, hari Sabtu (25/07/2015) Mamah mengajakku ke sana. Sungguh bukan hal yang disengaja, aku sama sekali tidak memberitahu Mamah perihal niatku yang ingin pergi ke sana sebelumnya. Sepertinya apa yang aku inginkan juga menjadi keinginan Mamah di hari itu. Jadi aku berhasil menchecklist salah satu point yang ada di lembar schedule-ku tanpa ujian yang berarti.

Kenapa aku ingin ke sana? Karena sejak aku pindah ke Jakarta sekitar tahun 1997 atau 1998 lalu, aku belum pernah main kembali ke rumah Bibi dan Mang-ku itu. Padahal dulu, sebelum aku tinggal di Jakarta, aku lebih dulu tinggal di Karawang dan sering sekali main ke sana, rumah yang terletak di pinggir kali/sungai/irigasi.

Aku senang bisa kembali mengenang masa kecilku meski ada rasa asing yang juga merasuk ke dalam tubuhku. Melihat sudah cukup banyak rumah mewah yang dibangun di sana, ketika aku sampai dan melihat ke sekeliling. Tapi, aku tetap suka memandangi orang-orang yang memanfaatkan kali/sungai/irigasi untuk kegiatan sehari-hari mereka seperti mencuci baju, mencari ikan, kapal penyebrangan, serta berbagai aktivitas lainnya. Aku senang berada di desa dan aku rasa tempat ini memang masih desa. Jalanan yang masih berbatu, ayam-kambing yang berada di mana-mana, serta berbagai pemandangan desa lainnya yang ikut aku nikmati. Suasana yang sudah tidak pernah lagi aku temui di kota-kota besar seperti Bandung.

Di tengah derasnya perubahan zaman menuju moderenisasi, masih ada saja orang-orang yang menjaga adat istiadat di tempat tinggalnya. Contohnya, aku sendiri ingin sekali bisa berbahasa Sunda tapi sayangnya, memang sejak kecil aku telah terbiasa berbicara dengan Bahasa Indonesia. Meski sebenarnya aku mengerti apa yang orang lain bicarakan menggunakan Bahasa Sunda, tapi aku tidak luwes menjawabnya dengan menggunakan Bahasa Sunda lagi. Ya, positif-negatif sih ya? Negatifnya apa? Masalahnya, kali/sungai/irigasi yang ada sekarang ini kan warnanya sudah keruh kecoklatan tapi masih saja digunakan sebagai tempat mencuci baju, mencuci piring, dan mencuci perlatan rumah tangga lainnya. Tentu air kali/sungai/irigasi yang keruh itu telah tercemar oleh berbagai zat, mungkin dari limbah industri, limbah rumah tangga, serta berbagai limbah lainnya. Amat sangat disayangkan. Air itu butuh diolah lebih dulu agar menjadi bersih dan layak digunakan kembali namun membayar PDAM sendiri, mungkin merupakan beban yang tak biasa bagi orang-orang desa seperti mereka.

Nah ceritanya, aku dan Mamah ingin jajan tuh ya. Namanya orang Sunda, aku ini suka banget sama yang namanya sayuran. Kemudian aku pesan 1 piring karedok (seperti gado-gado atau lotek tapi mentah, sayurannya ngga direbus dulu), eh pas lagi makan, aku malah kepikiran ‘ini sayurannya dicuci di mana ya?’ aishhh.. Pas aku bilang ke Mamah tentang ketakutanku itu, Mamah malah menjawab, “Kalau dicuci di sana, nanti kamu badan kamu bisa jadi gemuk loh..” What? Gemuk? Aku sih pingin gemuk tapi kalau gemuknya gara-gara itu sih aku takut. Bisa jadi gemuk karena cacing dalam perutku bertambah gemuk akibat disiram air kali, jangan dong jangan..

Terus ada yang ingin aku ceritakan terkait masa kecilku di sini nih. Hal yang aneh, memalukan, dan lucu, mungkin. Aku tuh kalau ada maunya pasti maksa ‘harus’. Begitu sih kata Mamah selama ini. Seperti ketika aku ingin bertamasya saat berusia 5 tahunan, tapi dulu Mamah ngga pernah merealisasikan, jadinya aku ngapain coba? Aku ngegelar/membentangkan kertas koran di depan rumah, kondisinya rumahku itu dipinggir jalan raya Johar Karawang yang berdebu akibat truk dan mobil besar lainnya dan dengan stay cool aku duduk di sana sepanjang hari bahkan tiduran di sana seperti orang yang bertamasya di taman rumput yang hijau. Meski sudah dimarahi oleh Mamah, aku tetap memaksa ingin melakukannya. Sama seperti ketika aku ingin merasakan trotoar jalan raya menuju kompleks tempat tinggalku di Jakarta, kala itu aku dan teman-teman memaksakan diri pulang berjalan kaki dan tidak lewat perkampungan selepas sekolah usai. Itu semua hanya demi merasakan bagaimana rasanya berjalan kaki di atas trotoar itu. Aneh memang, lebih tepatnya ngeyel.

Oke, segitu dulu deh ya ceritanya, aku sudah mulai enek nih heheheh..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s