Bercanda dalam Satu Wajihah

Assalamualaikum sahabat… mari kita sedikit mempertanyakan ke diri kita masing-masing, kenapa ya perkembangan dakwah di kampus kita cenderung lambat? Nampaknya kita perlu refleksi kembali, nampaknya ada yang harus kita evaluasi dari perjalanan kita ini

Mungkin selama perjalanan kita ini, kita terlalu fokus terhadap proker-proker kita, yang kita lakukan hanya memikirkan bagaimana proker kita ini bisa berjalan, dan kita melupakan hal-hal kecil lainnya yang kita rasa itu ga sepenting berjalannya proker.

Lalu pertanyaannya adalah sebenernya apa hal-hal kecil yang sering kita lupakan itu? Ya… salah satunya adalah kita sering melupakan bagaimana cara yang benar kita berinteraksi dengan lawan jenis.

Hari ini seolah-olah menjadi fenomena yang biasa melihat ikhwan dan akhwat berkumpul bareng-bareng, emang sih di masjid kita pake hijab, pada jaga jarak, jaga pandangan, bicaranya juga dijaga, tapi seolah-olah hal itu cuman ketika di masjid doang, di luar itu seperti memiliki topeng yang cuman dipakai ketika di masjid doang. Ketika di luar masjid, mungkin beberapa dari kita mulai memberikan toleransi ke diri kita masing masing, mungkin kita berpikir wah sedang tidak di masjid, mungkin ga apa-apa kalau berkumpul dengan yang bukan muhrim, wah sedang ada di lab, mungkin ga apa-apa kalau banyak bercanda dengan lawan jenis, wah sedang jagain makanan jualan nih, mungkin ga apa-apa kalau bantu si dia sedikit, wah lagi ga di organisasi dakwah, mungkin ga apa-apa kalau jam malemnya ditabrak. Ya akhirnya kita memberikan toleransi yang tidak perlu kepada diri kita masing-masing, tapi pertanyaannya apa hal ini ga apa-apa?

Padahal kita semua tau, inilah ajaran islam yaitu membatasi seminimal mungkin interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dan meminimalkan bercampur baur,  jangan katakan

“ini aneh, bagaimana kok memisahkan antara laki-laki dan perempuan, susah lho, bagaimana ketika kita di kelas yang bercampur baur, bagaimana ketika kita di lab dan organisasi-organisasi pada umumnya”

Maka kita katakan ini tidak aneh, semua bisa diatur dan kita katakan adalah meminimalkan bukan memisahkan sama sekali, konsep dan manhaj inilah yang terjadi pada zaman Rasulullah saw. Konsep pada zaman keemasan islam yang membawa islam menguasai sepertiga dunia hanya dalam waktu 30 tahun, meruntuhkan dua imperium besar romawi dan Persia. Konsep yang meminimalkan ikhtilat/campur baur laki-laki dan perempuan. Ini buktinya :

Para sahabat saja, dengan keimanan mereka, ketika bertanya kepada istri Rasulullah saw-dengan keimanan mereka juga, harus bertanya dibelakang hijab.

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab :53)

Ali bin Abi thalib sangat cemburu kalau istrinya yang berbelanja di pasar, karena pasar adalah tempat campur baur dan sulit dipisahkan. Ali bin Abi Thalib pernah mengirimkan surat kepada salah satu kota untuk berbicara kepada para penduduknya. Ia menulis,

“Telah sampai kepadaku kabar bahwa perempuan-perempuan kalian berdesak-desakan di pasar dengan orang-orang kafir non-arab! Tidakkah kalian cemburu ?! Sungguh tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya rasa cemburu”

Orang-orang yang berpikiran liberal pasti akan mengatakan aneh dan bagaimana bisa dipisah semua sendi kehidupan antara laki-laki dan perempuan, tapi sebagai kaum muslim seharusnya kita tidak mengatakan aneh, kalau orang liberal mengatakan ajaran ini aneh dan asing, Rasulullah saw tealh mangabarkan jauh hari sebelumnya bahwa ajaran islam akan dianggap asing

“Islam pada awalnya asing dan akan kembaliasing kelak sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang (dianggap) asing” (HR. Muslim 145)

Maka untuk  siapapun kamu, cara terbaik untuk melakukan akselerasi dakwah kampus adalah dengan memperbaiki diri sendiri, minimalkanlah ikhtilat dan mencegah khalwat. Hal ini sudah tercermin dalam ajaran islam misalnya saja ketika kita shalat yaitu orang datang dengan tujuan beribadah dan khusyu’, maka dipisahkan antara shaf laki-laki dan perempuan bahkan banyak yang diberi hijab, karena awal dari fitnah adalah pandangan. Oleh karena itu Rasulullah saw berkata kepada Ali :

“wahai Ali, janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat  kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.”

Dan satu lagi

“memandang kecantikan seorang perempuan adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangan darinya, maka Allah akan memberikan di dalam hatinya sebuah kelezatan sampai pada hari Kiamat.”

Jadi yang bisa kita lakukan :

Bergaul dan berinteraksilah secukupnya dan sewajarnya dengan lawan jenis. Jangan banyak-banyak mengikuti kegiatan yang bercampur baur dengan lawan jenis. Jika terpaksa berbicara dengan lawan jenis usahakan “biasa saja” tidak tunduk terus atau lihat atas terus, agar orang awam tidak merasa tersinggung atau dianggap aneh/gila bahkan bisa lawan jenis menjadi GeeR. Sambil berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan dan keselamatan hati

Dan satu lagi, coba lah untuk selalu menaati jam malam, dan hal itu tidak hanya berlaku untuk lingkungan aktivis dakwah saja, tapi juga untuk siapapun dan dimanapun berada. Karena jika kita sedikit-sedikit melanggar aturan jam malam, ya apa bedanya kita dengan organisasi-organisasi umumnya yang akhirnya sama-sama pulang dan komunikasinya hingga larut malam juga, coba lah untuk sedikit merasa malu jika melakukan sesuatu yang salah. Karena “ rasa malu itu adalah sebagian dari iman” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan semoga rasa malu ini juga bisa dirasakan oleh semua orang yang ahirnya bisa mempercepat perkembangan dakwah di kampus kita, layaknya seorang utsman bin affan, karena rasa pemalunya beliau sampai-sampai malaikatpun malu kepadanya.
By : jauhari habibie

Sebuah broadcast yang membuat saya tersentak pagi-pagi. Rasanya seperti saya yang berada di dalam tulisan ini. Ya, saya mengakui kesalahan saya beberapa pekan terakhir. Saya terlalu banyak bercanda dengan kawan satu wajihah. Karena apa? Karena sejujurnya saya memang seorang yang periang, karena saya tidak ingin stres sendiri dengan beban yang mungkin cukup berat di beberapa pekan kebelakang, atau karena saya memang ingin lebih dekat dengan mereka semua, saya ingin mengurangi kesan angker yang mungkin ada dan menjadi branding hidup saya.

Berbagai alasan pun hadir sebagai pembelaan namun saya akui, saya memang salah dan harus memperbaiki diri. Saya tidak ingin kesalahan saya menjadi sesuatu yang dapat menghadang gerak langkah saudara/i saya, di wajihah yang sama/berbeda dan/atau di masa yang sama/berbeda. Saya tahu dan selalu diingatkan untuk berhati-hati oleh sang murabbi, karena apa pun yang kita lakukan bisa saja berdampak pada jalan ini. Inalillahi..

Broadcast di atas dan tulisan saya ini, semoga bisa menjadi terapi untuk kembali menyadarkan saya. Saya memang sudah lama ingin menulis, menyampaikan apa saja yang ingin saya sampaikan.

Saya tidak berakting atau membohongi orang lain dengan diri saya yang kadang galak di hadapan banyak orang, laki-laki maupun perempuan. Karena memang pada dasarnya sifat itu pun memang ada pada diri saya, saya bisa pedas ketika berbicara, dan spontan mengeluarkan kata-kata apa saja yang ada di kepala saya. Selain dari itu, saya memang periang. Saya aku lagi bahwa saya memang terlalu banyak tersenyum, tertawa, atau bercanda dan saya memang benar-benar merasa bahwa hal tersebut harus saya minimalisir. Banyak bercanda itu tidak baik, membuat kewibawaan saya berkurang, dan saya lebih merasa seperti anak kecil/childish.

Beban yang saya miliki, maksudnya beban kami yang berada di satu wajihah beberapa minggu kemarin memang cukup berat. Saya mengingat bagaimana kedua saudara/i saya itu izin untuk menunaikan amanah lainnya terlebih dahulu. Saya harus bolak-balik ke PPDU untuk mengurus pembicara yang ternyata tidak ada hanya minus tiga sampai empat hari sebelum acara, saya harus mengurus dana yang lumayan bikin malu karena melulu meminta uang yang besarnya berjuta-juta. Hingga saya tidak sadar bahwa saya sedang mengalami krisis. Saya banyak bawel di group untuk menenangkan hati, untuk memastikan bahwa semuanya sesuai dengan skenario. Saya pun ingin semuanya terlibat dan saling bahu membahu atau saya yang juga ingin semuanya berjalan dengan sempurna. Saya memang terlalu idealis untuk banyak hal. Hampir setiap hari saya bolak-balik ke PPDU untuk bertemu dengan Bu Endang, merevisi proposal, berbicara dengan Pak Tengku, meminta uang kepada Bu Ema setiap harinya, menyetorkan semua struk, kuitansi, dan uang sisa, hingga berbagai aktivitas lainnya yang berhubungan dengan institusi. Rapat, pertemuan, dll. Saya tidak menjadikan semua ini pembenaran, saya tetap salah, dan mungkin karena kebawelan saya di group, saat ini pun saya jadi nyerocos terus setiap kali bertemu dengan yang lainnya. Maafkan..

Selama ini, selama saya berkuliah di kampus ini, saya memang tidak mengenal banyak saudara/i yang sama atau berbeda wajihah. Yang saya tahu ya sebatas yang ikut syuro atau pernah satu divisi dengan saya. Sejak saya bergabung pun, saya akui saya sangar terhadap mereka baik laki-laki maupun perempuan dan kali ini, saya ingin lebih mengenal atau akrab dengan Adik-Adik satu wajihah saya saja. Saya tidak ingin terlalu kaku, saya ingin solid bersama mereka. Entah keputusan ini benar atau salah tapi kembali lagi pada broadcast di atas bahwa mungkin saya memang harus kembali pada kebiasaan lama saya.

Entahlah, saya juga selalu bertanya-tanya selama ini. Ini anak-anak mulai bercanda terus dengan saya, meski saya tahu bahwa mereka mengerjakan tugas dengan sangat baik setelah itu. Lalu boradcast inilah yang menjadi jawaban dari semua pertanyaan itu, saya bersyukur ada orang yang mengingatkan kesalahan saya. Memang lebih baik kritikan dibanding pujian karena kesalahan saya yang sama sekali tidak terpuji.

Ketika orang lain semakin baik setiap detiknya, saya pun harus mulai berbenah diri dari semua kekacauan ini.

“Astaghfirullaahal ‘azhiim alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih, (taubatan nasuuha), taubata ‘abdin zhoolimin laa yamliku linafsihi dhorron wa laa naf’aa wa laa mautan wa laa hayaatan wa laa nusyuuro.”
Aku memohon ampun kepada AllahYang Maha Agung, aku mengaku bahwa tiada Tuhan selain Allah, Tuhan yang hidup terus selalu terjaga. Aku memohon taubat kepada-Nya, (taubat yang sesungguhnya), taubat seorang hamba yang banyak berdosa, yang tidak mempunyai daya untuk berbuat mudhorot atau manfaat, untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti.

“Robbanaa atmim lanaa nuurona waghfirlanaa, innaka ‘alaa kulli syai-in qodiir”. QS. At-Tahrim [66] : 8

Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Nenden Widha Soraya. Bandung, 2 September 2015. 7.58

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s