Jadi Anak Nakal (Sehari)

Aku lupa tepatnya kemarin ini hari Minggu atau Senin? Oh ya! Senin. Aku ingat sekarang!

Sudah seminggu aku tidak pulang ke rumah, tinggal bersama dengan Teh Maya di Sukapura membuatku lupa. Alasanku tinggal di sana juga sebenarnya tidak banyak, malah rasanya lebih banyak lagi alasanku untuk pulang ke rumah. Ah ya sudahlah, Senin kan terakhir uts dan aku bisa langsung pulang sehabis dari kampus.

Sekitar jam 4 sore akhirnya aku sampai di rumah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang kurasa dari pintu besi karena tertutup rapat, salah satu mobil Papah pun tak ada di garasi. Mereka belum pulang.

Aku ngga mungkin pulang ke rumah Emah dengan kondisi yang seperti saat ini. Baiklah, menunggu saja di rumah Bi Ida. Tapi sepertinya ini keputusan yang salah. Aku merasa di adu domba.

Selama ini, Mamah telah mendidiku dengan keras. Terutama saat aku masih kecil. Ia mengajarkanku bagaimana caranya hidup dengan kesederhanaan dan terus mengejar prestasi. Bukan dengan limpahan harta namun nol prestasi. Kemudian, dengan saat ini aku tinggal di Bandung bukan berarti aku harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan mereka. Aku sudah besar. Aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi diriku sendiri.

Kupingku makin terasa panas. Aku menagih janji kepulangan mereka pukul 10 pagi tapi yang kudapat hanya alasan dan alasan tanpa solusi. Belum lagi yang kudengar dari orang lain bahwa mereka sedang berwisata ke pantai Pangandaran. Hah, mereka memang tidak pernah bilang apalagi mengajakku. Malah Mang Dodo yang saat ini menjadi anak mereka. Selalu dibawa ke mana-mana.

Aku lost control.

Permasalahan ini, permasalahan BM, belum lagi permasalahanku dengan baju-baju yang belum sempat dicuci.

Baiklah mari kita bersenang-senang sejenak. Berbelanja ke Borma. Membeli semua yang kau inginkan saat itu.

Aku ambil barang yang memang telah kuincar sebelumnya. Hingga ratusan ribu raib dari dalam kantong dan aku sms Papah,

“Pah, Nden habis beli salin di Borma 250rb nanti ganti..”

Keesokan harinya saat Papah datang ke Sukapura rasanya aku malas. Sikapku padanya benar-benar menunjukan rasa kemarahan, ketidaksukaan, dan lain-lain. Sepertinya Papah merasakan dan meninggalkanku uang jajan lantas pulang ke rumah.

Aku pakai baju baru itu. Kok rasanya jelek ya? Ah semalam aku rasa telah membelinya dengan haaa nafsu sesaatku saja.

Aku pulang ke rumah dan suasana hening. Mereka masih menganggap aku marah.

Pagi hari keesokan harinya, Papah memberikan uang ganti 250rb itu. Dan malam ini (di hari yang sama) Papah membelikan aku risoles pedas seperti keinginanku yang lalu-lalu.

Yang aku sesalkan hanya kepergian kalian di tengah kondisiku yang sedang uts. Kalian benar-benar tidak mengerti. Kalian sama sekali tidak bilang kepadaku, kalian mengambil kesempatan untuk pergi disaat aku tidak ada di rumah. Bahkan mengajak pun hampir tidak pernah. Papah ngga pernah ingat uang jajanku, entah telah berapa hari aku tidak diberi uang jajan karena aku tidak meminta kepadamu.

Aku ini ingin pulang tapi tidak bisa. Mengertilah..

Aku rasa 250rb tidak ada apa-apanya dibanding uang bensin sekali Papah pergi ke pom. Uang 250rb tidak ada apa-apanya dibanding membayar penginapan, makan, dan pemandangan yang kalian nikmati selama berwisata ke sana.

Maafkan aku, sekali saja aku ingin menjadi anak nakal. Aku sungguh letih dengan semua persoalan ini. Aku pun menyesal dengan caraku mengikuti hawa nafasu ini.

Bagaimana perasaanku yang tidak enak selama mengenakan pakaian itu atau bagaiaman orang lain mengingatkanku dengan tidak sengaja.

Maafkan aku..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s