Nahi Mungkar

“Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Berusaha untuk Mengerjakan Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran / Keburukan / Kebathilan.”

Nasihat yang …
– bukan sekedar kata-kata manis, yang hanya bertujuan untuk diperdengarkan
– patut untuk diamalkan, apalagi bila seseorang sudah mengetahui ilmu ini maka akan jauh lebih berat lagi konsekuensi bila tidak mengamalkannya, naudzubillah
– harus diperjuang sekuat tenaga untuk dapat menegakannya, in syaa Allah, aamiin

Aku hanya teringat, katanya lebih mudah untuk ber-‘amar ma’ruf- dibandingkan ber-‘nahi mungkar’. Ia, mungkin saja..

Papah Jarang Sholat

Memangnya apa yang selama ini telah aku usahakan untuknya agar ia bisa sadar atau ingat dan kemudian melaksanakan sholat?
– Mengingatkan? Tidak, itu belum aku lakukan. Aku selalu merasa tidak sopan bila harus menegur atau menasihatinya dan penyesalanku baru terasa saat ini. Seharusnya aku bisa berbicara seperti seorang anak ke Ayahnya saja atau lebih merendah lagi agar ia tidak tersinggung dengan kata-kataku.
– Mendoakan? Aku rasa aku pun belum memohon kebaikan untuknya dengan atau secara spesifik kepada Allah. Sejauh ini aku hanya sebatas membaca doa untuk kedua orangtua.
– Mencontohkan? Seharusnya orangtuaku yang mencontohkan sholat 5 waktu kepada anaknya. Saat ini malah terbalik. Hanya Mamahkulah yang selama ini benar-benar bisa mendidikku dengan baik, namun saat ini ia jauh dariku.

Mungkin ini pulalah jalan terbaik yang Allah pilihkan untukku. Agar aku bisa bersama dengan Ayahku dan saudaraku yang lainnya, yang butuh diingatkan, yang butuh diperhatikan, yang butuh ditolong.

Ternyata usahaku masih tipis, belum maksimal, maka dari itu hasilnya pun samar.

Ya Allah aku sedih, bagimana aku bisa meninggalkan mereka semua nanti selulusnya dari kuliah kalau kondisi mereka masih seperti ini? Aku merasa berkewajiban atas keluargaku sendiri. Ayahku, Kakakku, Kakak iparku, Adikku, Om-Tanteku, Sepupuku, dan yang lainnya. Siapa lagi kalau bukan aku? Keluarga terdekat mereka.

Apakah cukup waktu beberapa bulan terakhir ini untuk berusaha mendoakan dan mengingatkan mereka semua?

Ya Allah berikanlah aku petunjuk, pertolongan, kekuatan agar bisa selalu berusaha dan berdoa untuk mereka semua.

Aku sadar, seharusnya selama ini aku tidak melulu mengeluh kepada-Mu tentang kondisi keluargaku. Toh usahaku pun masih nihil. Semua ini adalah kesalahanku, seharusnya aku bercermin kepada diriku sendiri terlebih dahulu sebelum menyalahkan yang lainnya.

Zaky pun Malas Sholat

Bagaimana Zaky bisa rajin sholat kalau orangtuanya sendiri tidak memberikan contoh sholat kepadanya? Bagaimana bisa aku mengajak orangtuaku untuk belajar mendidik Zaky agar mendirikan sholat kalau mereka pun tidak sholat?

Seharusnya aku tidak sekedar mengerjakan sholat tetapi juga berusaha untuk mengerjakan sholat tepat waktu atau di awal waktu, khusyuk, dengan doa dan gerakan yang benar, tu’maninah, dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW lainnya.

Agar semua ini turut membawa kebaikan bagi keluargaku. Jangan setengah-setengah dalam beramal apalagi bila untuk memberikan contoh.

Mudahnya Menegakan Nahi Mungkar Di Kampus

Aku tidak mau berputus asa dengan mengatakan ‘sulitnya menegakan nahi mungkar di kampus’.

Ketika ada teman yang meminta bocoran soal dan aku mengingatkan. Aku malah dipanggil ‘Bu Guru’.

Aku hanya ingin berusaha menegakan ‘nahi mumgkar’ dengan sekuat tenaga dan mematahkan pesimisme.

Ingat, kisah mengenai semut-semut yang membawa air untuk memadamkan api yang sedang membakar tubuh Nabi Ibrahim AS?

Ya, meski air yang hanya sedikit itu tidak mungkin mematikan api yang sudah membesar. Tetapi semut-semut itu sudah berusaha, sudah menunjukan diri kemana ia berpihak? kepada kebenaran, kepada kebaikan, kepada Allah SWT. Jadi sekiranya bila nanti Allah bertanya  di yaumil akhir, maka peristiwa itu akan menjadi saksi dan pertolongan bagi semut-semut itu.

Kemana Nenden Widha Soraya yang dulu? Yang selalu jujur, yang selalu berusaha, yang berani mengadukan Kakak kelas ke guru di saat ujian berlangsung dengan menunjukan bukti kertas contekan. Nenden Widha Soraya yang tidak pernah risau dengan nilai akhir karena kamu selalu bangga dengan nilai hasil kerja keras dirimu sendiri meski tidak setinggi teman-teman yang lainnya, teman-temanmu yang mencontek itu.

Jangan melakukannya dengan standard, alakadar, semampunya tetapi harus sekuat-kuatnya, sekuat tenaga yang kamu miliki!

~ Aya yang sedang berperang dengan hati dan fikiran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s