Bintang yang Sama

Dari dalam hati, muncul rasa ingin mengenal oranglain dengan lebih dekat, mengetahui tentang siapa dirinya, mendengarkan beragam kisah hidupnya, dan mengambil hikmah dari pengalaman yang telah diperolehnya.

Menjadikan hidup mereka (oranglain) sebagai bahan pembelajaran untuk diri sendiri.

Yaa meski aku tidak mengenalnya.

Sebut saja dia si Sholeh. Dia merupakan salah seorang penjual ‘tahu gila’, kreasi kuliner di daerah tempatku tinggal saat ini.

Tapi sebelumnya, entah karena apa muncul keinginan untuk membeli? Entah karena aku tertarik dengan etalase dagangannya yang cukup eye catching? Entah karena namanya yang nyentrik? Entah karena rasa iba dengan si Sholeh karena sepi pembeli? Entah, mungkin ini jalan Allah agar aku belajar darinya :))

“A, udah lama jualan di sini?”

“Udah tapi saya mah baru, baru ngegantiin pegawai yang lama.”

“Oh, adanya cuma di sini ya A?”

“Ngga ko, katanya mah di tempat lain juga ada..”

Sambil menunggu pesanan siap, aku sungguh ingin tahu bagaimana usaha ini berjalan.

“Yang punyanya laki-laki atau perempuan A?”

“Laki-laki Teh, minggu ini mau tunangan sama pacarnya.”

Ehhh siapa juga yang nanya sampai ke situ..

“Iaa pasti yang punyanya masih muda, yang kreatif.” Hmmm sambil bergumam sendiri dalam hati.

“Jualan di sini rame A? Biasa dapet berapa sehari?”

“Ya namanya juga dagang, ada ramenya, ada sepinya. Kadang dapet sampai 100rb, kadang juga sehari dapet 80rb.”

“Coba bukanya di depan Unsika, pasti rame tuh A.. Emang biaya sewa di sini berapa A?”

“Sebulan 500rb..”

“Kalau modal awalnya kira-kira berapa?”

“Wahh saya ngga tau..”

“Hmmm, kalau saya baca-baca di internet sih sekitar 8jt-an kayanya..” Jawabku sambil meraba-raba jenis kayu dan harga untuk membuat etalasenya.

“A, digajinya bulanan? Terus setiap hari dapet uang makan?”

“Ia gajinya bulanan tapi ngga dikasih uang makan untuk sehari-hari. Ya kadang dikasih nasi timbel tapi kadang-kadang.”

Sontak pada detik itu juga aku kaget. Untung aja bola mataku tidak copot dari lubangnya. Maafkan ekspresiku yang mungkin aga berlebihan A, ngga ada maksud untuk menyinggung.

Setauku ya, gaji karyawan seperti si Aa Sholeh ini sekitar 800rb – 1jt per bulan. Seharusnya sih belum sama uang makan-transport. Makanya aku miris dengernya..

“Aa lulusan SMA?”

“SMP Teh, baru aja lulus kemarin..”

“Padahal lanjut aja A ke SMA atau SMK, terus kerja di pabrik, gajinya bisa berjuta-juta.” Kataku, memberi sedikit masukan agar penghasilannya bisa sedikit terangkat.

“Ia Teh, sebenernya saya juga udah sempet masuk sekolah tapi berenti, ngga mau lanjut.”

Dan masih ada beberapa dialog lagi yang aku dan si Aa Sholeh perbincangkan seputar usaha / bisnis ‘tahu gila’ ini. Namun yang aku garis bawahi, tebalkan, dan miringkan adalah yang di atas ini. Tentang pendidikan dan masa depannya.

Selepas wisuda, aku memutusakan untuk langsung pindah ke Karawang dan Karawang rasanya benar-benar menjadi kampung halamanku untuk pulang. Tepat sekali.

Ada beberapa hal yang di antaranya membuatku terikat dengan Kota Kabupaten ini. Kota Kabupaten tempat Ibuku dilahirkan, dibesarkan, dan didekatkannya kami kembali dengan keluarga besar.

Bahkan sebelum kepindahanku ke salah satu lumbung padi Indonesia ini pun, sudah banyak imajinasi yang aku lukiskan dari jauh, dari atas langit Bandung. Aku sempat berangan-angan, berfikir, bahkan hingga berdebat tentang bagaimana langkah kecil kepindahanku bisa membawa sedikit perubahan bagi Karawang?? Bagaimanaaa??

Sama sekali tidak aku tutupi bahwa di sini memang masih terbentang luas lahan amal yang bisa digarap oleh kita. Kita bersama.

Mungkin karena adanya sedikit persamaan dengan Ciwidey, kampus kehidupanku. Maka dari itu aku merasa terpanggil, tertarik oleh magnetnya.

Karawang itu.. Masih banyak fakir miskin yang aku rasa belum cukup diperhatikan oleh pemerintah. Miris lihatnya. Kalangan bawah seakan memiliki jumlah yang begitu banyak.

Ini Allah yang lebih sering memperlihatkannya ke aku aja atau gimana ya? Hati ini selalu tercabik-cabik setiap kali dipertemukan oleh orang-orang seperti mereka di tengah jalan.

Belum lagi pergaulan anak muda nya yang kurang pengawasan. Tentang kenakalan remaja, tentang hubungan laki-laki dan perempuan, atau bahkan tentang kriminalitas yang aku rasa cukup tinggi.

Kalau diurut-urut ya, semakin mendekati Ibu Kota, ko sepertinya tingkat keberanian anak mudanya juga semakin meningkat, moralitasnya semakin menurun. Ahhh ini sekedar pendapatku saja, tidak ada hasil penelitian yang mendukung sebelumnya. Tapi sungguh butuh perhatian.

Sedangkan bicara tentang pemuda penerus, aku sangat menyayangkan jika ada seorang anak yang putus sekolah di tengah jalan. Padahal program wajib belajar 12 tahun sudah didengung-dengungkan. Bantuan dari pemerintah pun seharusnya ada, beasiswa atau apa pun itu. Sayang kan..

Mau jadi apa kalian? Bagaimana masa depan kalian? Mau hidup seperti apa nantinya? Bagaimana mau membahagiakan orangtua?

Bukannya aku tidak bisa memberikan contoh.

Meski aku seorang sarjana dan saat ini belum mendapat kerja, bukan berarti pendidikan tinggi tidak menjamin kehidupan yang lebih baik.

Malah karena aku saja sudah bertahun-tahun mengenyam bangku pendidikan, masih saja harus berjuang untuk sekedar mencari kerja. Bagaimana kalian bisa menjamin lulusan SD / SMP / SMA bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik dariku?

Aku tau kalian butuh uang tapi uang itu mudah sekali dicari dan mudah juga hilang, habis. Uang itu bukan segalanya, percaya. Terus nih, yang masih cilik-cilik, jangan nekat cari uang, terus nanti gedenya luntang-lantung deh karena udah putus sekolah.

Cari ilmu, ilmu, dan ilmu. Ilmu selamanya akan membimbing dirimu. Dari kegelapan menuju cahaya. Dari kesulitan menjadi kemudahan. Dari kegagalan menjadi kesuksesan. Dari ketiadaan menjadi sesuatu yang membanggkan. Ilmu itu tidak akan pernah hilang, selama kamu berusaha mengamalkannya. Malah semakin bertambah bila kamu merasa kurang atau haus akan ilmu. Bikin kamu tambah kaya dari waktu ke waktu.

Sekolahlah, tunaikanlah bangku pendidikan setinggi-tingginya, untuk menaikan derajadmu, orangtuamu, keluargamu, daerahmu, memperbaiki hidupmu dan juga kualitas masa depanmu.

image

Eka – Dimas, kalian juga harus kembali menumbuhkan semangat belajar. In syaa Allah suatu saat nanti Kak Aya akan datang dan mau tidak mau kalian harus kembali bersekolah ya.

Berkorbanlah sedikit, berjuanglah sedikit, Kak Aya yakin kalian bisa menggapai cita-cita kalian.

Bahkan semua Adik Kak Aya di Buninagara, pasti akan bisa menemukan jalan untuk meraih bintang kalian masing-masing.

Dengan izin Allah, dengan kuasa Allah, dengan kekayaan Allah, dengan Allah, Kak Aya, diri kalian, orangtua kalian, keluarga kalian, dan sekeliling kalian, semua itu mudah bila kalian terus percaya dan berusaha.

Semoga yang saat ini telah putus sekolah, bisa disambung lagi dengan kuasa Allah.
Semoga yang saat ini malas sekolah, bisa bersemangat lagi dengan pertolongan Allah.
Semoga yang saat ini lemah azamnya, bisa dikuatkan lagi dengan kekuatan Allah.

Aamiin..

Kak Aya sungguh rindu kebersamaan kita 3 tahun yang lalu. Mimpi-mimpi kalian pun telah menjadi bagian dari mimpi Kak Aya. Raih bintang kalian dari langit Buninagara yaa :’))

I love you so much, miss you so much dear ♥♥♥

Advertisements

2 thoughts on “Bintang yang Sama

  1. aku bercita-cita jadi bupati karawang teh, tentu bukan karna ego jabatan dan sebagainya tapi melihat keadaannya, rakyat yang jauh dari kata sejahtera, pembangunan yang jauh dari kata merata, jujur aku namgis waktu ketik komentar ini, mengingat mirisnya keadaan warga disana memang tak sekeras tempat yang aku pijak (jakarta) tapi mengingat karawang yang masih wow potensi alamnya namun minim pengelolaannya, apalagi di kampung halamanku dengan segala potensi yang ada karawang ini terbilang pemerintah belum mampu memanfaatkannya dengan mandiri, kebanyakan hasil instan dari sewa untuk dikelola perusahaan swasta bahkan dari hasil penjualannya dan puas serta kenyang dengan hasil dari sogokan partai sebagai iming-iming pembangunan sarana dan sebagainya agar orang-orang partainya dapat berkuasa ini miris sekali teh. dan mengingat hal itu ini menjadi PR kita bersama sebagai generasi penerus wargi karawang yang semoga kedepannya mampu menjadi kota kabupaten yang jauh lebih mementingkan hajat orang banyak ketimbang hajat satu golongan sebagai orang-orang yang berkuasa

  2. Aaaaa semangaattt, jadi merasa ada temen yang sejalan dan seperjuangan nih, atau mungkin sebenernya di luar sana ada banyak yang merasakan hal yang sama kaya kita gini, mungkin karena masing2 punya keterbatasan jadinya tenggelam, mimpinya punya tapi action-nya belum mampu, boleh nih kita bikin pergerakan, kalau masanya ada banyak kan kerjanya bisa dipanggul bareng2 😀

    Aamiin, mudah2an cita2nya terwujud yaa
    Tapi jadi apa pun kita nanti, kita ngga perlu nunggu kaya/berkuasa/tenar/dewasa dulu ko buat bisa bantu/bermanfaat buat oranglain
    Ayooo kita curi start duluan, selagi masih muda heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s