Kenapa Sih Harus Menikah?

(disarikan dari beberapa video yang bersumber dari YouTube seperti channel Yufid, Taman Surga, dlsb)

gambar-kartun-romantis-islam-berpasangan
Prolog:
Saat ini usiaku sudah menginjak 22 tahun, bahkan sebentar lagi akan bertambah menjadi 23 tahun. Tapiii, sejauh ini atau selama ini jujur saja aku kurang memiliki motivasi untuk menikah bahkan lebih parahnya bisa dikatakan aku kurang tertarik dengan pernikahan.
Entahlah, aku ini belum puber atau apa tapi ya memang aku amat sangat cuek dengan lawan jenis bahkan judes sampai-sampai teman laki-laki pun bisa aku hitung dengan jari (teman di kampus loh ya, kalau teman di SMA ya banyak soalnya dulu tukang berantem).
Atau gimana ya? Ah aku juga ngga ngerti. Cuma yang aku rasa, aku ini sudah terlalu nyaman dengan kondisiku yang seperti ini. Tinggal serumah dengan orangtua dan Kakak-Adik, seru, selalu sama-sama, rame, ya menyenangkan aja. Daripada kalau menikah, misal pisah dengan orangtua ataupun mertua, milih hidup mandiri cuma berdua sama pasangan (sebelum punya anak), ih sepi banget deh krik-krik.
Enak juga kaya sekarang, bebas mau ngapa-ngapain aja, ngga ribet atau repot harus izin-minta restu dulu sama suami.
Bebas mau melangkah, merancang masa depan, menentukan masa depan seorang diri.
Ahh pokoknya isi fikiran ini masih sempit, terbatas, cetek, ala kadarnya deh.
Sampai akhirnya aku coba buat belajar mengenai ‘motivasi menikah’, itu pun setelah dikasih tau sama sahabat kalau ada video pembahasannya di YouTube.
So, aku ini dulu bodoh banget.
Ternyata aku itu ngga termotivasi untuk menikah karena aku ngga faham ilmunya ditambah aku males dan ngga mau tau. Padahal banyak temen yang sedari kuliah udah ngebahas tentang nikah muda dan ngebet banget buat nikah muda.
Ya udah yuk dipersiapin dulu ilmunya..

Pembahasan:
Hukum menikah (bisa berubah/menyesuaikan sesuai kondisi/keadaan):
– Dianjurkan, ketika belum ‘mampu’ maka berpuasa
– Diwajibkan, ketika sudah ‘mampu’ (+) mampu secara finansial, harus disegerakan, takutnya jatuh kedalam dosa atau terlalu banyak mudhorotnya kalau ngga disegerakan
– Makruh, ketika ngga jujur kepada calon pasangan bahwa ia memiliki kekurangan seperti tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis, hingga akhirnya menikah, dan orang tsb tidak bisa memenuhi kewajiban biologisnya itu
– Haram, ketika tujuan pernikahan ialah untuk mendzolimi pasangannya

Contoh niat yang salah ketika hendak menikah:
– Kebiasaan (lulus sekolah-kerja-menikah-punya anak-dst)
– Dituntut/tuntutan/dipaksa orangtua
– Hanya untuk melampiaskan syahwat
– Terdesak, temen2 udah nikah semua
– Perasaan suka/cinta, biasanya yang berawal dari pacaran
– Usia, udah ngga muda lagi

Padahal, tujuan menikah itu di antaranya:
– Ibadah, menikah itu ladang/sumur pahala. Mengurus suami, menyusui anak, beres2 rumah, dlsb itu berbuah pahala
– Agar memiliki keturunan/anak yang sholeh
Ingat ketika manusia meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali 3 hal yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan kedua orangtua. Jadi cara untuk mendapatkan anak sholeh yaitu dengan menikah, maka kita akan memiliki tabungan akhirat. Tapi, semuanya dikembalikan lagi kepada Allah tentang kapan diberikan anak, berapa jumlah anaknya, sesuai dengan kemampuan manusia tersebut dan karena hanya Allah yang maha mengetahui
– Menyempurnakan separuh agama
– Menikah adalah sebuah kebutuhan, menjadi seorang istri berarti menjadi pakaian bagi sang suami dan juga sebaliknya, sepasang suami-istri hendaknya saling melengkapi kekurangan yang ada pada diri pasangannya. Ada baiknya juga kekurangan tersebut lantas diperbaiki, dirubah

Manfaat menikah di antaranya:
– Menjaga pandangan & kemaluan
– Menenangkan hati

Tujuan pernikahan yang lainnya yaitu menjadi keluarga yang:
– Sakinah (kecocokan/condong)
– Mawadah (kecintaan)
– Rahmah (kasih sayang)

Beberapa kriteria suami (berarti kriteria istri juga, berarti poin-poin yang harus dipersiapkan oleh diri sendiri):
– Agama (No. 1), yang sholeh, yang beriman kepada Allah/aqidah/tauhidnya, yang bertakwa (mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya), yang bertawakal kepada Allah, yang rajin beribadah
– Akhlak, menikahi si dia berarti menikahi akhlaknya, karena kita akan hidup bersama akhlaknya. Hati-hati, ada yang berilmu/pemahaman ilmu agamanya bagus tapi akhlaknya ngga mulia, makanya hati-hati
– Bertanggung jawab, karena setelah ijab qabul, suami harus bertanggung jawab terhadap istrinya (tanggung jawab dari orangtua si istri pindah ke sang suami, dan si istri wajib taat kepada suami di atas apa pun (ridho Allah jadi ridho suami)). Nah yang bertanggung jawab tuh yang kaya gimana?
(1) Bertanggung jawab dalam/dengan ilmu, cari suami yang ilmu agamanya baik, yang mampu mendidik/membimbing istri, anak, dan keluarganya, tanggung jawab akhirat, seengganya cari suami yang mau sama-sama belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, menjadi makhluk yang lebih taat dan mencintai Allah
(2) Bertanggung jawab dalam/dengan nafkah, ini tentang harta, bukan seberapa banyak harta yang dimilikinya, bukan seberapa besar gaji yang diperolehnya, ngga apa2 kalau dia belum memiliki pekerjaan tetap yang penting setiap hari bekerja, mau berusaha, pekerja keras, bukan pemalas
– Cari yang subur (lebih ke wanitanya sih), mungkin bisa dilihat dari nasab/keluarganya
– Sekufu/sepadan/sederajad biar selaras

Sifat-sifat baik yang patut dimiliki istri:
– Ketika suami memandang, wajah sang istri dapat menyenangkan hati suami.
– Ketika suami memerintah, istri taat (tapi taatnya tetap sesuai dengan kemampuan dan fitrah seorang wanita)
– Ketika suami pergi, istri dapat menjaga kehormatan keluarganya
– Ketika suami memberi, istri bersyukur (qonaah)
– Ketia suami belum mampu memberi, istri bersabar dan tetap taat kepada suami (+) dengan kasih sayang

Ada beberapa alasan kenapa nikah muda:
– Menjaga diri dan menentramkan hati
– Menambah semangat dalam beribadah, pasangan bisa jadi partner dalam beribadah
– Membantu mempercepat kesuksesan di usia muda
– Dapat saling mengasihi, menyayangi, mencintai satu sama lain
– Memiliki waktu & tenaga/energi yang lebih berkualitas dalam membesarkan anak
– Bisa menikmati masa tua bersama dengan anak yang sudah dewasa (ngga perlu mikirin biaya sekolah anak lagi, malah bisa sambil nimang cucu)

Question & Answer:
– Aku mah maunya punya suami yang ganteng, kalau ngga ganteng ngga mau..
Kita menikah bukan dengan fisiknya tapi dengan akhlaknya. Jelek/ganteng, lama2 akan bosan karena sudah terbiasa memandang selama sehari-hari tinggal bersama. Lagi pula fisik di dunia itu sifatnya sementara, di akhirat semuanya akan diberi fisik baru. Semua laki-laki akan bertubuh seperti Adam, berwajah seperti Yusuf, dan berhati seperti Ayub. Sedangkan perempuan akan seperti Hawa. Semua tinggi dan usianya sama.

– Kenapa hak menceraikan ada di tangan suami?
Karena laki-laki cenderung menggunakan akalnya sedangkan perempuan cenderung menggunakan perasaannya.
Makanya, hidup berumah tangga itu harus penuh toleransi karena pernikahan menyatukan dua makhluk yang amat sangat berbeda (latar belakang), perlu belajar beradaptasi sehari-hari, saling lapang dada, memaafkan, dan meminta maaf. Utamakan perkara akhirat, kalau perkara dunia jangan diambil susah (ngga perlu dibesar-besarkan).

– Gimana kalau ada kasus yang nikah tapi ngga cinta..
Ngga apa2 karena yang menumbuhkan rasa cinta itu Allah, yang mendatangkan Allah. Jadi jangan coba2 memulai pernikahan dengan melakukan dosa/maksiat seperti pacaran (cinta-cintaan) karena itu malah ngga mendatangkan ridho Allah. Bisa-bisa sehabis menikah, rasa cintanya hilang dan mendatangkan musibah.

– Jodoh itu bisa diikhtiarkan?
Bisa, berbeda dengan takdir Allah yang berupa kelahiran, manusia sama sekali ngga bisa memilih siapa orangtuanya. Atau kematian, manusia ngga bisa menunda kapan datangnya kematian. Tapi pernikahan/jodoh, bisa diikhtiarkan, mau yang kaya gimana tapi jangan rewel, jangan muluk2.
Ingat, kalau ada pria yang sholeh/baik agamanya dan berakhlak mulia datang melamar ke rumah seorang wanita dan sang wanita menolak, maka hati-hatilah akan terjadi kekacauan yang besar.

Di antara harta yang paling mulia:
1. Hati yang bersyukur
2. Lidah yang berdzikir
3. Istri yang beriman

Epilog:

Terus tiba-tiba kepikiran.
Jadi, kalau aku udah kerja, udah punya penghasilan, udah ‘mampu’ secara finansial, menandakan kalau aku sudah siap untuk melaju ke jenjang pernikahan?
Eia tapi kan di dalam islam, sebenernya menjadi kewajiban suami 100% di dalam menafkahi istri, anak, dan keluarganya. Jadi kalau udah ada laki-laki yang ‘mampu secara keseluruhan’ dan datang melamar seorang perempuan, meskipun si perempuan belum bekerja/belum memiliki penghasilan, itu semua ngga bisa dijadikan alasan syar’i untuk menolak si laki-laki dong?
Tapi itu sih kalau si laki-lakinya faham tentang ilmu agama dengan baik, syukur alhamdulillah. Makanya harus cari suami yang baik agamanya agar dapat menjalankan bahtera pernikahan sesuai dengan syariat islam yang sebenarnya, ya bahwa si laki-laki bertanggung jawab penuh untuk memberi nafkah, dlsb.

Aihihihi, siap-siap ah bisi tiba-tiba ada yang dateng ke rumah 😀

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Sih Harus Menikah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s